Surat Darinya...


Assalamu'alaikum Wr Wb

Hari ini terbentuk dari masa lalu
Masa depan terbentuk dari hari ini
Benar bukan?

Tiga kata tlah mengubah dekade kedua dalam hidupku
Tiga kata tlah mengantar pada salah satu hal yg kucari
Tiga kata tlah membuka jalan baru

Menyesal? Never

Tak kenal, tapi tahu. Itulah masa SD kita..
Menyesal di awal, tp smg happy ending d akhir. Itulah masa SMP..
Perjuangan dengan 'sedikit' bumbu2 intrik. Itulah masa SMA.

Benci? Tak akan

Aneh sering terpikir..
Tak sedikit sepertinya salah kata dan ucapku padamu
Tak sedikit harusnya sakit hatimu
Tapi kamu tetap duduk di sampingku
dengan wajah dudul tersenyum, seakan menungguku bicara

Anti kasysyams..
Itulah yang kurasakan.
Matahari yang kuat dan tegar. Menjulang tinggi di langit.
Aku tegar? salah.
Kamu lah yang demikian..

Tapi terkadang sinar kuatmu bisa ditutupi kelembutan awan.
Itulah kamu yang mudah tersentuh

Layaknya matahari menyinari bumi,
Kehadiranmu begitu diharapkan
Pesonamu membuat silau
Dan orang akan tersenyum menyambut hangatmu..

Matahari mencintai langit yang biru.
Tempatmu lah di atas sana.
Tak perlu ragu..
Tak perlu takut..
Tak akan sendiri..
Aku lah bayang. Akan selalu mengikutimu. Melihatmu..
Tak perlu menunduk ke bawah untuk mencari.
Karena aku ada dimana matahari bersinar
Panggillah dan aku kan kembali

Anti kasysyams..


Tiga kata itulah yang menyadarkanku..
Perpisahan ini bukanlah perpisahan
Karena hati2 kita tlah disatukan oleh-Nya
Karena tujuan perjuangan kita sama
Karena langit ini masih terbentang di seluruh belahan bumi

Terima kasih tlah membimbing slama ini..
Mohon maaf atas segala khilaf

Semoga usianya berkah.
Semoga dapat menjadi orang yang berguna dan menyenangkan untuk orang lain..
Semoga trus istiqomah utk menjadi pejuang di jalan-Nya
Semoga sukses dunia akherat

Semoga kita tak menyia2kan kesempatan yang datang hari ini.
Semoga kita tak menyepelekan persiapan hari ini.

Tiga kata itu tlah membuktikannya..
Sederhana dan simple. Tp tak kan terlupa..
"Berapa nilai Matematikanya?"

Wallahua'lam...


Sukses membuatku menangis di Lab Fasikom. Jazakillah, ya Ta... Udah nemenin aku di kala aku senang, susah, sedih, khilaf, dan kondisi2 yang aneh bin ajaib lainnya...
Love u coz Allah...

Hadiah Kecil Dariku

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Tak banyak yang bisa kuceritakan tentangnya di sini. Terlalu banyak kata2 yang akan keluar ketika aku harus bicara tentang sosok yang begitu kukagumi.

Seorang anak yatim yang begitu gigih bekerja untuk terus bersekolah. Walau mungkin Ibunya sendiri tak pernah menyuruhnya untuk tetap bersekolah sepeninggal sang Ayah. Menggembala kambing, mencari kayu bakar di hutan, menjadi kenek angkutan kota…

Berbekal kantung plastik untuk membawa buku pelajarannya, ia pergi dengan semangat menuju ke sekolah. Ia anak yang pandai. Terpandai di sekolahnya. Namun, hal itu tak membuatnya aman dari kejaran guru2 karena ia tak pernah memakai seragam ataupun sepatu saat di sekolah.

Ia berusaha tegar. Meskipun seringkali ia iri melihat teman2nya mendapatkan baju baru saat hari raya Idul Fitri tiba. Kepolosan kecil mendorongnya untuk mendatangi makam sang Ayah, “Pak, belikan aku baju baru…”

Waktu terus berjalan hingga ia bertemu dengan seseorang yang memang Allah takdirkan untuknya. Ketika ia menghadap Ayah sang Gadis dengan memakai baju pinjaman dari seorang sahabat, masih terbesit sebuah keraguan, “Apakah aku akan diterima?” Allah tahu kesungguhan dan niat tulusnya. Ia pun dapat bersanding dengan Gadis itu.

Kegigihannya untuk terus bersekolah masih terus berlanjut dan akhirnya membawanya ke pekerjaan yang begitu mulia, menjadi seorang Dosen. Ia menjadi satu2nya yang tidak menjadi pedagang di keluarga besarnya. “Dia itu orang hebat,” itulah yang sering diucapkan oleh kakak2 dan adiknya.

Mahasiswanya sering berkata bahwa ia orang yang galak. Namun, seringkali terlihat pancaran rasa hormat dan aura kedekatan yang begitu hangat terpancar ketika mereka berbincang2 dengannya. Tak satu pun mahasiswanya sakit hati ketika mendapat teguran darinya. Yang ada, mahasiswa itu malah menjadi mahasiswa yang paling dekat dengannya. Selalu bersilaturrahim ke rumahnya walau sebenarnya telah lulus lebih dari 6 tahun yang lalu.

Tak jarang pula mahasiswanya itu membawa sang pacar ke rumah hanya untuk memperkenalkan dan meminta pendapat sang dosen tentang pacarnya itu, apakah sudah pantas untuk maju ke jenjang pernikahan atau tidak (tentunya yang satu ini tanpa sepengetahuan sang pacar ^^)

Dengan bangga kukatakan bahwa aku adalah anak sang penggembala kambing itu. Aku adalah anak pencari kayu bakar itu. Aku adalah anak kenek angkutan itu…

Selalu terngiang di kepalaku tentang pesan2nya dulu. Pesan yang ditujukan untuk anaknya yang “ndableg” ini.

Bapak memang orang yang keras, namun Bapak adalah orang yang paling lembut hatinya ketika berhadapan dengan orang2 yang dicintainya.

Aku yakin orang2 di sekeliling Bapak sangat menyayangi beliau. Begitu pun kalian jika sudah mengenal beliau. Percaya lah…

Senyum tulus itu pun masih terus terbayang dengan jelas. Senyuman yang hadir walau ruh itu sudah tidak menyatu lagi dengan raga beliau.

Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak dengan jannah-Nya. Dan semoga kita dapat berkumpul kembali di sana ya, Pak.. Aamiin..

Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayaanii shaghiraa…

Donor Darah Pertamax


Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Tanggal 14 Oktober 2009 akan menjadi bagian hari bersejarah dalam hidupku. Yup, itu adalah tanggal aku pertama kali mendonorkan darahku.

Bermula dari pengumuman Pengmas BEM Fasilkom lewat SCeLE Fasilkom. Mereka mau ngadain Blood for Charity, acara tahunan Pengmas buat ajang beramal lewat darah kita yang bekerja sama dengan PMI. Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung daftar. Menuliskan nama, golongan darah, dan NPM di thread. Di situ aku tulis dengan bangga bahwa golongan darahku B. Walau begitu, di akhir postingan kutulis juga klo aku gak yakin lolos tes kelayakan :p

Apa yang membuatku merasa gak layak?

1. Berat badan kurang dari 45 kg
Biasanya berat badanku itu sekitar 43 kg. Itu juga lagi puncak2nya nafsu makan. Belom pernah melewati angka itu. Hehe…

2. Darah rendah
Nah, ini dia yang paling mengkhawatirkan. Soalnya tekanan darahku itu cukup unik. Normal sistolnya di bawah 100, yah, sekitar 96. Waktu check up jaman Maba dulu, aku dibilang kena hipotensi parah dan ditanya apakah sering pingsan atau gak (tapi, Alhamdulillah gak suka pingsan kok ^^)

Dua hal di atas udah cukup membuatku “nyadar diri”. Hehe…

Oke, cerita berlanjut hingga akhirnya aku mendaftarkan namaku ke panitia. Nibel ngasih aku kertas warna kuning yang isinya tentang biodata dan riwayat penyakit. Ternyata prestasi kita ditanya juga ya.. Jadi malu karena kosong. Haha…

Tes pertama : Check berat badan dan tekanan darah

Mas PMI 1 : Berat badannya berapa Mba?

Argh.. tidak…!! Langsung ditanya dengan pertanyaan yang menohok…
Aku : Mm.. Berapa ya, Mas? Bentar ya.. Saya nimbang dulu.

Saking nervousnya dan takut berat badanku kurang dari 45 kg, aku naik ke timbangan sambil gemblok tas. Baru nyadar pas Kak Agung negur.
Kak Agung : Ka, tasnya dilepas dulu tuh..

Aih, malunya.. Keliatan nervous banget pastinya.. :p

Subhanallah!! Takjub aku ngeliat jarum di timbangan yang menunjuk ke angka 45! Alhamdulillah.. Lolos!! ^^

Aku : 45 kg, Mas! (dengan PD sekali)

Mas PMI 1 : Ok, 45. Sekarang ceek tensi ya, Mba. Maaf, tangan kanannya...

Argh... Tidak...!! Tensiku!! Pas lagi tensi, jantungku deg2an cukup parah. Ya Rabb, aku bener2 takut klo tensiku rendah..

Subhanallah!! Lagi2 aku takjub ketika melihat mas PMI 1 menulis di kertas bahwa sistol-ku 120 (diastolnya lupa. Hehe...) Subhanallah!! Allahuakbar!! Mungkin aku terkesan lebay. Tapi beneran deh.. Hasil pemeriksaan pertama ini bener2 di luar dugaan. Terima kasih Ya Rabb.. ^^

Tes kedua : Cek golongan darah dan Hb

Harusnya Kak Agung duluan yang tes. Tapi dengan teganya dia mempersilakan aku untuk cek terlebih dahulu T_T
Mas PMI 2 : Golongan darahnya apa Mba?

Aku : B, Mas! (jawab dengan PD)

Mas PMI 2 : Jarinya Mba..

Duh, itu jarumnya serem amat..
Kak Agung : Sakit lho, Ka.

Aku : Ah, gak kok. Biasa aja.. (berusaha meyakinkan diri :p )

Mas PMI 2 : Gak kok. Gak sakit (sambil tersenyum ramah)

Kak Agung : Sakit lho, Ka..

Beneran dah nih Kakak.. Demennya nakut2in mulu…
Sambil menoleh ke samping agar tidak melihat langsung kejadian penusukan itu, aku bisa merasakan jariku seperti digigit semut gede :p Darahku langsung dicek pke cairan Kupper Sulfat (klo gak salah) sama cairan untuk nguji golongan darah.

Mas PMI 2 : Mba, golongan darah Mba apaan tadi?

Aku : B, Mas.

Mas PMI 2 : Golongan darah Mba itu AB, lho…

Aku : Hah? (melongo beneran) AB? Kok bisa? Dulu saya udah pernah tes kok. Hasilnya B..

Dimulailah perdebatan kecil dengan aku sebagai pihak pro B dan Mas PMI 2 itu kontra B. Tapi aku percaya Mas PMI 2 itu gak mungkin boong. “Saya percaya kok Mas…” walau sebenarnya hati masih belum terlalu rela ^^’

Alhamdulillah.. Kadar Hb normal dan bisa langsung donor darah. Jantungku langsung berdegup dengan kencang lagi. Bismillaah.. Ya Allah, kuatkan aku..

Jarum untuk nyedot darah (namanya apaan ya?) langsung disuntikkan ke lengan kiriku yang sudah pasrah. Tapi, gara2 tanganku gak sengaja ketarik (nahan sakit sampe tangannya gak bisa diem. Hehe…) akhirnya darahku gak keluar. Dan akhirnya jarum itu harus dilepas (sama sakitnya kayak pas dimasukkin) untuk kembali disuntikkan T_T Nasib dah…

Darah itu pun akhirnya mengalir dengan lancar walau jumlahnya sedikit2 (kata Mba PMI-nya, pembuluh darahku kecil). Begitulah, biar gak bosen nungguin sedot darahnya selesai (serem amat ya nyebutnya :p ), aku diajak ngobrol sama Mba PMI. Aku sekalian nanya2 tentang penyakit2 yang berkaitan dengan darah. Salah satunya tentang Myelodisplastic Syndrom ^^

Selesai donor darah, aku dapet susu coklat anget sama mie instan cup langsung seduh (dilarang nyebut merk :p ). Abis donor darah, aku langsung mentoring sama mentee2 PMBku tercinta, kelompok Ekiga. Ternyata membawa mie instan cup langsung seduh adalah keputusan yang salah. Sempet rebutan mie itu sama menteeku yang lagi kelaparan. Haha… Dasar mentor yang aneh (malah ngatain diri sendiri :p )

Persiapan Ulang Tahun...


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Persiapan ulang tahun? Emangnya siapa yang ulang tahun?
Yang jelas bukan aku. Eh, gak juga ding.. Bentar lagi aku juga milad (apaan sih? :p )
Hmm.. Insya Allah bulan November nanti, tepatnya tanggal 17 November, Ibu dan (alm.) Bapak milad...

Aku mau bikin hadiah yang istimewa, yang beda dari tahun2 sebelumnya. Karena kondisi keluarga kami sekarang pun berbeda. Tahun2 sebelumnya biasanya aku sama Iqbal patungan buat beli kado. Aku beli kado untuk Ibu, Iqbal beli kado untuk Bapak.

Nah, untuk tahun ini rencananya aku mau membuat tulisan tentang mereka di blog ini. Dimulai tentang Bapak dulu, habis itu baru tentang Ibu. Mungkin beliau juga gak bisa baca tulisan di blog ini. Tapi cukuplah Allah Yang menjadi Saksi atas semua rasa cintaku untuk beliau. Semoga tetap dapat tersampaikan ^^

Mau tau gimana kejutanku untuk beliau berdua saat milad tahun lalu? Temen2 bisa klik di sini...

~Doakan semoga tulisan itu bisa selesai tepat waktu ya...

Dikira Hamil


Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sebelumnya mau ngucapin “Taqabbalallahu minnaa wa minkum, kullu ‘aamin wa antum bi khair. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir batin ya… Insya Allah kalian juga kumaafin kok..” ^^

Gambar di sebelah ini gambar bikinan Mas Oske lho.. Dia jago banget gambar (anak desain grafis ITB '03. Sekalian saya promosiin nih, Mas.. ^^ )

Alhamdulillah di libur lebaran tahun ini aku masih bisa mudik ke Cilacap (kampung Ibu) dan Bumiayu (kampung Bapak). Jelas sekali terasa perbedaannya. Dulu, kami masih bisa mudik dengan menggunakan mobil dan Bapak yang nyupir. Sekarang, kami ikut mobil Bulik dan keluarganya. Tapi, gak papa.. Bukan kah Allah telah mengaruniakan kita persaudaraan? Rame2 itu lebih enak! (ngutip kata2nya siapa ya… Hehe…)

Di Cilacap, kerjaanku adalah membuat Om-ku menjadi Om yang berbakti kepada keponakan (kebalik gak sih, nih?). Hehe… Malem2 minta dimasakin nasi goreng, minta ditraktir, minta jalan2 ke Teluk Penyu, dll. Maklum lah… Om-ku yang satu ini emang masih muda :p

“Bersyukurlah, Om. Kan jarang2 Eka di Cilacap. Nah, sekarang Eka kasih Om kesempatan untuk berbakti sama ponakan. Haha…”

Dengan cepat Om akan langsung menjawab dengan, “Dasar keponakan yang durhaka,” sambil berlagak kayak Ibunya Malin Kundang. Hehe… Tapi walau begitu, Om masih aja tetep nurut. Jadilah keponakannya ini semakin durhaka :p

Yah, walau ngerepotin Om terus, aku juga bantuin Om jaga anaknya yang masih bayi kok. Jadi inget, aku dorong2 kereta bayi sambil muterin rumah Mbah Uti beberapa kali. Klo kereta bayinya berhenti sebentar aja, Dika (anaknya Om) langsung nangis. Ya sudah… Sebagai sepupu yang baik, akhirnya aku bertawaf keliling rumah Mbah sampai Dika tidur ^^’

Di Bumiayu, nah, ini juga seru nih… Karena sumur di rumah Mbah kering, akhirnya tiap pagi dan sore harus menyambangi rumah tetangga dan saudara2 di sana yang sumurnya gak kering. Bahkan kadang2 juga mandinya di pemandian umum (pemandian air panas gitu.. Bisa sekalian menikmati pemandangan gunung dan hutan cemara di kaki bukit ^^ ) Untuk nyuci pun harus ngungsi ke kali. Hehe… Tapi air kali di sana bening lho.. Jangan samakan dengan kali Ciliwung di depan rumah :p

Aku juga ziarah ke makam Bapak 2 kali.

Allahumaghfirlahu war hamhu wa’afihi wa’ fu ‘anhu… Semoga Allah mengumpulkan kita kembali di jannah-Nya kelak. Aamiin!!

Heran deh, kenapa keluarganya Bapak berulang kali nyuruh aku pacaran, ya? Aku sampe bingung mau ngejelasin gimana lagi klo aku emang gak mau punya pacar (mau sih.. tapi entar aja klo udah nikah. Hehe…). Kata beliau2, “Usia kayak kamu itu harusnya udah punya pacar…”

Gak usah khawatir, jodoh kita gak bakal lari kok. Klo kata Allah di QS An-Nur ayat 26,
“… Dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik.”
Sekarang mah yang penting perbaiki diri dulu.. Biar bisa dapet yang baik juga ^^

Ngomong2 soal nikah, ada sedikit “tragedi Plurk” yang pengen aku ceritain juga :p

Karena puasaku di Ramadhan tahun ini full (alhamdulillah), aku nulis status “Alhamdulillah… Puasanya poll…” Terus Kak Ilman sama Ridho bingung, “Kok bisa?”. Tiba2 ada komen menakjubkan dari Kak Agung,
“Eka udah nikah ya? *kayanya saya mikirnya kejauhan..”
Waduh, kok sampe ditanya udah nikah segala?? Terus mikir bentar…
“Jangan2 Kak Agung ngira saya lagi hamil ya??”
Dan, sesuai dugaan.. Kak Agung jawab, “Iya.”

Waduh… Kok bisa gitu ya??

Mmmm....

Bersama kita memulai langkah kecil itu
Terkadang tersandung, bahkan terjatuh
Walau aku harus tertatih untuk mengimbangi kalian yang mulai bisa berlari
Aku terima dan aku lakoni
Karena kuyakin, Allah bersama kita

~Rindu kalian saudara-saudariku...

Tilawah Everyday

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Hari Minggu kemarin (26 Juli 2009), salah seorang kawan kita dari Fasilkom UI pergi ke tanah rencong. Yup, Asfaari Raasyidah akan mewakili UI untuk mengikuti lomba MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur'an) cabang 2 juz. Iid bakal dites untuk melanjutkan ayat2 yang dibacakan oleh dewan juri secara acak dari juz 2 hingga juz 3. Subhanallah ya..

Jadi inget waktu aku lagi tes hafalan. Dan ternyata… Jeng jeng jeng… Yang ngetes aku itu adalah kakak kelasku di 28. Hoho.. Betapa kaget dan nervousnya aku. Dites sama hafizhah-nya langsung.

Aku kebagian giliran ketiga. Sambil muraja’ah (ngulang2 hafalan) aku ngintip temen2ku yang dapet giliran pertama dan kedua. Makin keringat dinginlah aku.. >_<

Tibalah giliran… Aku langsung mendekat ke kakak itu. Sambil berbisik, “Jangan susah2 ya, Kak!” (emang dasar anak bandel :p)

Alhamdulillah… Lumayan lancar. Walau ada dua pertanyaan yang gak bisa dijawab ^^;

Ada kata2 kakak itu yang kuingat. Kurang lebih kata2nya seperti ini.

“Hafalan kita akan membantu kita untuk menaiki tangga menuju syurga. Semakin banyak hafalan kita, akan semakin tinggi pula tangga yang dapat kita pijak. Kan rasanya gimanaaa gituu klo kita tertahan di tangga terbawah karena terhalang oleh hafalan kita yang sedikit.”

Bak disulut api (tapi bukan marah2 lho ya.. ^^), aku langsung kembali bersemangat untuk menambah hafalanku yang emang masih dikiiiiiiiiiittttt banget klo dibandingin sama Iid apalagi sang kakak itu.

Yuukkk.. Kita sama2 mendekatkan diri sama Surat Cinta dari Allah. Tilawah setiap hari.. Walau hanya sampai 1 ‘ain atau satu halaman atau bahkan lebih dari itu. Sedikit demi sedikit kita tambah hafalan kita. Semoga ayat2 yang kita baca dan hafalkan bisa menjadi saksi di akhirat kelak dan bisa membawa kita untuk menapak ke tangga syurga yang tertinggi. Aamiin!!

“Sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Al hadits)