8 Sep 2016

Rumput Tetangga yang (Terlihat Lebih) Hijau

Diposkan oleh Zana di Kamis, September 08, 2016 1 komentar

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

8 September 2012. Gak terasa udah 4 tahun sejak wisuda S1 (gladi resik sih lebih tepatnya). Dan sekarang masih S1 juga. Belum nambah jadi S2, S3, apalagi S kelapa muda (maap garing).

Klo melihat sekeliling, dalam jangka waktu 4 tahun ini rasanya aku belum ngapa-ngapain. Temen-temenku udah banyak yang selesai dengan gelar S2-nya. Banyak pula yang masih menimba ilmu, baik di dalam maupun luar negeri. Di sela-sela belajar, klo liat di sosmed sih banyak juga yang sambil keliling Benua Eropa, Asia, dan negara-negara di sekitar tempat mereka belajar.

Yang lain pun klo aku liat di sosmed (sumbernya dari sosmed mulu. Hahaha.. Yah, namanya klo udah muncul di timeline mah ya udah keliatan aja :p ), udah keliling banyak daerah di Indonesia. Baik dalam rangka bersenang-senang, maupun memang sedang mengabdi dan berkarya di sana.

Beda lagi dengan beberapa orang teman yang dalam rentang 4 tahun ini sudah memasuki fase pernikahan. Ada yang lagi hamil, ada yang sebentar lagi mau melahirkan, ada yang udah punya 1 anak, ada juga yang udah punya 2 anak. Beberapa ada yang menjadi wanita karir, beberapa ada yang menjadi ibu rumah tangga, dan bahkan beberapa juga udah ada yang mulai merintis usaha sendiri (baca: ibu rumah tangga yang tetap berpenghasilan di rumah).

Hmm.. Terus aku jadi apa? XD

Alhamdulillah, aku masih jadi Eka yang begini. Masih di sini. Masih S1. Masih tinggal dan bekerja di Depok. Dan emang gak mau untuk kerja di luar Depok :p

Alhamdulillah, aku udah melewati fase ditanya-tanya "Kerja di mana? Udah punya pacar belum? Udah ada calonnya? Kapan mau nikah?".

Tapi, yang namanya hidup itu memang banyak fasenya. Setelah lulus dari fase pertanyaan di atas, kini berganti dengan fase "Udah hamil belum?".

Pun, jika fase ini udah lewat, akan muncul fase-fase lainnya seperti yang sudah banyak beredar jadi meme di dunia maya.

Dulu, waktu belum nikah. Sesungguhnya pernah terbesit beberapa kali perasaan iri ketika melihat foto kawan-kawan yang sudah halal bersama pasangannya. Jadi agak sebel bahkan. Hehe.. Maafkan saya, tapi ini beneran terjadi :p

Apalagi klo ngeliat foto yang model "kepala-kepala atau pipi-pipi nempel". Emangnya klo udah nikah harus upload foto kayak gitu ya di sosmed?? Gak tau apa klo yang liat sosmed kalian itu masih single?? (baca dengan nada emosi. Hamba mohon ampun :" )

Hal ini pula yang membuatku bertekad untuk gak jadi orang yang kebablasan mengumbar foto di sosmed karena aku tahu gimana gak enaknya jadi orang yang melihat. Semoga bisa istiqamah, ya Allah..

Nyatanya, ketika sudah menikah, memang godaan untuk upload foto bersama suami itu tinggi juga. Pergi bareng, pengen upload foto. Makan bareng, pengen upload foto. Walau terkadang memang sesekali masih keceplosan upload hal-hal yang berkaitan dengan tempat dan makanan, tapi alhamdulillah sejauh ini masih bisa nahan godaan untuk gak upload foto berdua. Bahkan setelah dipikir-pikir, aku sama sekali gak upload foto nikahan XD

Semoga bisa jadi salah satu jalan untuk menjaga perasaan teman-teman yang merasa terganggu dengan hal-hal beginian ya. Aamiin..

Ok, fase "iri ngeliat foto orang nikah" udah lewat, alhamdulillah. Sekarang, aku lagi struggle untuk gak iri dengan orang yang upload foto hasil USG atau foto bayi-bayi lucu mereka T.T

Berat juga ya ternyata. Sering banget istighfar klo perasaan kayak gini udah muncul. Banyak-banyak baca shalawat juga klo liat foto-foto bayi (berdasarkan saran Ust. Yusuf Mansur yang katanya perbanyak shalawat klo melihat hal-hal yang kita inginkan).

Perasaan iri ini manusiawi kan ya? Banyak-banyak istighfar deh. Astaghfirullaah... T.T

Memang bener ya.. Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.. T.T

Untuk menentralisir hati klo perasaan iri ini lagi muncul, aku selalu merenung bahwa setiap manusia itu diuji di titik terlemahnya. Titik terlemah orang itu berbeda-beda. Ada yang lemah dalam harta, ada yang lemah dalam keluarga, dsb.

Dan apa yang orang lain dapatkan itu sesuai dengan apa yang mereka usahakan.

Jika saat ini seseorang berada di posisi yang sangat tinggi, itu karena sebelumnya dia sudah berjuang di posisi yang sangat rendah.

Seperti roda yang titik tertingginya akan semakin tinggi jika jari-jarinya semakin panjang. Di sisi lain, semakin panjang jari-jari roda, semakin rendah pula titik terbawah (?) yang harus dilewati. (Ini Eka ngomong apa sih? Maapin klo pembahasaan analoginya gak bagus :" )

Klo misalnya aku iri dengan kondisi mereka yang berhasil, seharusnya aku iri juga dengan kondisi mereka di saat mereka terpuruk.

Katakanlah misalnya aku iri dengan orang yang berpenghasilan 1M dan berharap memiliki penghasilan sebesar itu. Apa aku sanggup menanggung hutang 5M seperti yang orang itu alami sebelumnya? Hii.. Ngebayanginnya aja udah serem. Na'udzubillaah.. :"

Setiap manusia diuji sesuai kemampuannya. Aku harus banyak bersyukur dengan apa yang aku dapat saat ini. Allah Maha Tahu apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya.

Selagi masih bisa memeluk erat iman Islam, masih memiliki keluarga yang saling menyayangi, masih terpenuhi kebutuhan rohani, jasadi, dan fikri, masih diberi kemampuan untuk bisa saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebaikan, apalagi yang aku khawatirkan?

Rumputku juga hijau kok dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Begitu pula dengan rumput tetangga yang juga hijau dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS Ibrahim: 7) 
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman: 13)

***

Catatan tambahan :p

Postingan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan siapapun ya. Pun, ini semua bukan berasal dari kekesalan pribadi. Hehe..

Hanya mencoba merangkum dan mungkin mengingatkan diri sendiri untuk seperlunya "memajang foto" di sosmed. Soalnya sering denger curhatan tentang ini juga.

Postingan ini hanyalah rangkuman dari curhatan beberapa orang yang aku ceritakan kembali dengan sudut pandang "ke-aku-an" :)

Semoga Allah menjaga kita dari perbuatan yang dapat menyakiti saudara kita. Aamiin :)

29 Jul 2016

Insya Allah dan Optimisme

Diposkan oleh Zana di Jumat, Juli 29, 2016 0 komentar
Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Kemarin iseng-iseng nulis artikel di web Kalam 28. Isinya cuma ngambil dari video ceramahnya Nouman Ali Khan dari NAKIndonesia sih. Hehe.. Link aslinya ada di sini. Semoga bermanfaat.. :)
~gambarnya juga coba ngedit sendiri pke sotosop :p

***



وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (٢٣


إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لأقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (٢٤
23) Dan jangan sekali-sekali engkau mengatakan terhadap sesuatu , ‘Aku pasti akan melakukan itu besok pagi.‘
24) Kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah’. Dan ingatlah Rabb-mu saat engkau lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Rabb-ku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.’
(QS Al-Kahfi: 23-24)
***
Insya Allah. Tentunya teman-teman semua sering mengucapkan kata yang satu ini.
“Besok tugasnya juga selesai kok, insya Allah.”
“Iya, besok gw dateng, insya Allah.”
Tahu kah teman-teman kalau insya Allah ini punya makna yang begitu dahsyat?
Kali ini admin akan mencoba untuk mengambil intisari dari video khutbah Nouman Ali Khan mengenai pentingnya mengucapkan insya Allah.
Dalam QS Al-Kahfi ayat 23, Allah berfirman:
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا
Wa laa taquulanna lisyai’in innii faa’ilun dzaalika ghodaa.
Dan jangan sekali-sekali engkau mengatakan terhadap sesuatu , ‘Aku pasti akan melakukan itu besok pagi.‘
Dalam ayat ini, Allah tidak menggunakan kata Laa taqul yang berarti Jangan katakan, tetapi Allah menggunakan kataLaa taquulanna yang berarti Jangan PERNAH katakan. Allah menegaskan bahwa tidak boleh berkata tentang apapun yang menyatakan bahwa kita pasti akan dapat menyelesaikan suatu tugas esok hari.
Lalu bagaimana jika mendapat tugas dari guru atau atasan yang harus diselesaikan esok hari? Bukankah itu berarti tidak boleh dijawab dengan pernyataan, “Baik, Pak/Bu. Saya akan menyelesaikannya besok“ ?
Tenang, jawabannya ada di potongan ayat berikutnya. Di awal QS Al-Kahfi ayat 24, Allah berfirman:
إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
Illaa an yasyaa-a’ alloh.
Kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah’..
Allah membolehkan kita untuk melakukan sesuatu di masa depan dengan ucapan insya Allah, jika Allah menghendaki. Inilah kenapa dalam budaya muslim, kata insya Allah digunakan untuk hal-hal yang berkenaan dengan masa depan.
Jika berkata, “Besok aku datang ke rumahmu pukul 3, insya Allah.“ Itu artinya, jika Allah tidak mengizinkan untuk datang ke rumahnya, itu adalah hal di luar kuasa kita. Niat dan usaha untuk menepati janji itu memang ada, dan harus ada. Hanya saja ternyata rencana kita tidak sesuai dengan rencana Allah.
Dari sini berarti kita telah meyakini bahwa masa depan bukan berada di tangan kita, namun berada di tangan Allah. Karena itulah kata insya Allah diucapkan.
Tetapi, terkadang pelajaran Allah yang indah dalam Al-Qur’an ini tidak dipahami dengan baik oleh kita.
“Aku akan datang ke acaramu besok, insya Allah.”
Makna insya Allah pada kalimat yang diucapkan bisa berubah menjadi:
“Aku tidak yakin bisa datang ke rumahmu besok. Karena itu aku mengucapkan insya Allah. Kalau aku malas, bangun kesiangan, atau tidak mood, bisa jadi aku tidak datang ke rumahmu besok.“
Insya Allah menjadi jalan untuk menghindari komitmen. Padahal, bukan seperti itu.
Coba kita lihat lagi potongan QS Al-Kahfi ayat 23, “faa’ilun dzaalika ghodaa“, “Aku pasti akan melakukan itu besok pagi.“Kalimat ini adalah kalimat janji, kalimat komitmen. Hal yang kita ucapkan wajib hukumnya untuk dilaksanakan.
Jika kita merasa tidak dapat melakukan sesuatu, katakan saja bahwa kita tidak bisa. Tapi, jika sudah berjanji, kita harus menepatinya. Lalu tambahkan, satu-satunya yang menyebabkan kita tidak bisa menepatinya adalah jika Allah menetapkan sesuatu di luar kuasa kita. Itulah “Illaa an yasyaa-a’ alloh(QS Al-Kahfi: 24).
Illaa an yasyaa-a’ allohbukan berarti kita tidak akan datang jika malas atau tidak mood. Tidak boleh menggunakan insya Allah dengan maksud seperti itu. Ini adalah hal yang keliru bagi frasa yang keras ini. Kita mengakui bahwa tidak semuanya berada dalam kendali kita. Allah telah memberi kemampuan untuk dapat memenuhi komitmen yang telah diucapkan. Namun meski kita mampu, Allah adalah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah berkuasa untuk menghentikan semua rencana kita. Inilah esensi dari “ Illaa an yasyaa-a’ alloh (QS Al-Kahfi: 24).
Lalu Allah menambahkan dalam lanjutan QS Al-Kahfi ayat 24:
وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
Wadzkur robbaka idzaa nasiit.
Dan ingatlah Rabb-mu saat engkau lupa .
Allah menggunakan kata “saat“, bukan “jika“. Ini berarti Allah menjamin bahwa kita akan lupa. Akan tiba saatnya ketika berjanji, kita lupa mengucapkan insya Allah. Allah juga menggunakan kata “Rabb“ untuk mengingatkan bahwa Allah adalah Rabb kita. Dia Yang Menguasai masa depan kita.
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengajarkan keseimbangan. Di satu sisi kita membuat sebuah janji. Di sisi lain kita juga percaya mutlak dengan kekuasaan Allah.
Lalu pelajaran berikutnya ada di lanjutan QS Al-Kahfi ayat 24 yang berbunyi:
وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لأقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا 
“Wa qul ‘asaa an yahdiyani robbii li ‘aqroba min haadzaa rosyadaa”
Dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Rabb-ku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.’
Kalimat ini merupakan sebuah doa. Bahkan lebih dari itu, mengandung sebuah harapan dan optimisme. Allah mengajarkan bahwa muslim harus punya harapan di masa depan. Iman yang membuat seorang muslim optimis dengan masa depannya.
Allah ingin menunjukkan bahwa Allah tak akan melupakan kita. Kita mengingat Allah sehubungan dengan masa depan kita (dengan mengucapkan insya Allah), maka Allah pun akan mengingat kita sehubungan dengan masa depan.
Masya Allah, ternyata ada begitu banyak makna yang terkandung dalam perintah mengucapkan insya Allah ya. Semoga kita bisa lebih berkomitmen dengan apa yang sudah diucapkan dan ingat untuk mengucapkan insya Allah. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk-Nya untuk kita. Aamiin..

Sumber video dan translasi:

14 Jun 2016

Gelap dan Sendiri

Diposkan oleh Zana di Selasa, Juni 14, 2016 0 komentar
Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Terkadang aku sering ngebayangin apa ya yang terjadi alam barzah? Segelap apa ya suasananya? Sesempit apa ya ruangnya? Sesepi apa ya nuansanya?

Pikiran-pikiran itu sering muncul klo lagi sendirian di rumah. Efek visualisasinya lebih dahsyat lagi manakala listrik juga mati. Gelap. Sepi. Sendiri.

Rasanya mau nangis klo ngebayangin ini T.T

Beberapa hari lalu juga dapat kabar duka dari salah seorang senior di kampus. Beliau kakak yang baik, cerdas, dan shalih. Aku jadi ngebayangin, seperti apa ya perjalanan beliau setelah tiba di alam barzah? Semoga Allah melapangkan kuburmu ya, Kak. Allahumaghfirlahu warhamhu wa'aafihi wa'fu'anhu. Aamiin.. T.T

Self reminder klo kematian itu semakin dekat. Sudah seberapa banyak ya amalan yang bakal jadi temanku nantinya biar aku gak sepi sendiri di sana? T.T

Di sudut kantor,
9 Ramadhan 1437 H

1 Jun 2016

Hidayah

Diposkan oleh Zana di Rabu, Juni 01, 2016 0 komentar


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Tetiba pengen nulis karena Mas Suami sering banget bahas masalah ini. Hidayah itu memang harus dicari. Dan ketika hidayah itu sudah datang, tugas kita selanjutnya adalah untuk merawat dan menjaganya hingga ajal menjemput.

Karena tingginya ilmu, lebarnya hijab, panjangnya jenggot, tak bisa menjadi jaminan bahwa hidayah itu akan tetap disana.

Membersamai orang-orang shalih dan shalihah semoga bisa menjadi salah satu usaha untuk merawat hidayah. Saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

Mas Suami selalu menegur klo aku bercanda, "Klo Eka begini dan begitu, sekarang Eka bakal jadi kayak gimana ya?".

Kata beliau, hati-hati dengan ucapan. Karena khawatir saat itu langit sedang terbuka dan setiap perkataan menjadi do'a.

Semoga Allah menjaga iman kita selalu.

Wahai Tuhan Yang Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini di atas agama-Mu..
Wahai Tuhan Yang Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini di atas kebenaran-Mu..
Wahai Tuhan Yang Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini dengan taat pada-Mu..
Aamiin...


16 Mei 2016

KET; Kejadian Luar Biasa

Diposkan oleh Zana di Senin, Mei 16, 2016 2 komentar
Bismillaahirrahmaanirrahim...

Alhamdulillaah, Allah masih kasih umur panjang setelah melewati masa-masa yang luar biasa itu :')

Aku mau cerita singkat tentang KET; Kehamilan Ektopik Terganggu atau mungkin istilah awamnya kehamilan di luar kandungan.

Kehamilan ektopik terganggu (KET) merupakan suatu komplikasi kehamilan dimana sel telur yang dibuahi tidak bisa menempel pada jaringan yang semestinya. Kehamilan semestinya berada di dinding rahim, embrio menempel pada dinding rahim. Kehamilan ektopik bukanlah kehamilan yang normal dikarenakan kehamilan itu tidak bisa berkembang sebab berada di tempat yang bukan sebagaimana mestinya. Kehamilan ektopik terganggu merupakan kondisi gawat darurat yang harus diketahui oleh petugas medis. Kondisi ini bisa membahayakan nyawa ibu, kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang menjadi salah satu penyebab mortalitas oada ibu hamil. (sumber: hamil.co.id)

Sesungguhnya aku baru denger istilah ini. Sebelumnya cuma tau istilah "hamil anggur". Orang2 yang aku ceritain tentang kehamilan di luar kandungan kebanyakan langsung nyeletuk, "Oh, hamil anggur, ya?"

Berdasarkan hasil browsing sana-sini, ternyata KET itu berbeda dengan hamil anggur. Klo hamil anggur itu di dalam rahimnya ada "benda asing" bukan janin. Biasanya berupa sel-sel berisi cairan yang berkumpul seperti anggur (mirip2 kista kali ya). Nah, klo KET itu beneran janin, tapi berkembangnya di luar rahim.

Berdasarkan artikel yang aku baca juga, resiko terberat dari hamil anggur adalah kanker rahim. Sedangkan untuk KET itu resiko terberatnya adalah kematian karena pendarahan hebat yang tidak segera ditangani.

Dua-duanya sama2 serem T.T

Cerita dimulai...

Pagi itu selesai sarapan, perut tiba2 terasa perih di sebelah kiri. Sakitnya persis kayak sakit maag. Aku izin terlambat ke kantor. Setelah rasa sakitnya udah berkurang, aku langsung berangkat ke kantor seperti biasa. Naik si Mio Merah kesayangan.

Sesampainya di kantor, aku kerja seperti biasa. Pas istirahat siang, aku makannya agak telat, sekitar jam 13 baru makan. Sebenernya pas telat makan itu, aku udah ngerasa pusing sedikit. Ah, mungkin ini efek telat makan kayak biasa. Selesai makan, langsung lanjut kerja lagi. Mulai jam 14 perut udah mulai2 perih lagi. Oh, kayaknya ini maagnya kumat lagi karena telat makan. Langsung minum obat maag.

Hmm,, Kok sakitnya belum hilang juga ya. Padahal biasanya 15 menit setelah minum obat sakitnya udah mulai berkurang.

Hmm.. Kok sakitnya makin perih dan melilit ya. Aku langsung ke kamar mandi. Baru aja nyampe kamar mandi, perut rasanya mual luar biasa. Langsung muntah2 hebat di dalam kamar mandi. Badan rasanya langsung lemes. Mau bersihin sisa2 muntahan aja udah gak sanggup. Mata udah mulai berkunang2. Pandangan rasanya muter2 dan agak gelap. Sempet ngeliat di kaca kamar mandi klo mukaku jadi pucet banget. Agak kekuningan.

Wah, ini gak beres nih. Harus segera keluar dari kamar mandi. Klo pingsan di kamar mandi dan gak ketahuan sama orang2 kan bisa bahaya.

Dengan menggunakan sisa2 tenaga dan penglihatan yang ada, aku berusaha nyari pintu kamar mandi, buka kuncinya, jalan pelan2 sambil ngeraba-raba tembok untuk masuk ke ruangan kerja. Begitu masuk, aku langsung "menjatuhkan diri" di karpet ruangan. Telinga udah mulai berdenging. Gak bisa denger apa2. Mata udah berat banget untuk dibuka. Badan lemes selemes-lemesnya. Mungkin ini yang namanya pingsan :'|

Pas udah mulai agak2 sadar, perut rasanya sakit luar biasa. Badan juga rasanya dingin banget. Mba Oni ngompres perut pke botol yang diisi air hangat. Badan juga jadi terbatas banget geraknya. Karena klo gerak sedikit perutnya jadi bertambah2 sakitnya.

Badan jadi lemes lagi, mata juga langsung ketutup karena rasanya berat. Kayaknya aku pingsan lagi. Tapi anehnya, aku ngerasa sadar. Aku bisa ngeliat kondisi di kantor kaya apa. Aku bisa ngeliat waktu suamiku buka pintu ruangan dan langsung menghampiri aku yang pingsan di kantor. Habis itu aku gak inget apa2 lagi. Mataku terbuka perlahan setelah pipiku ditepuk pelan beberapa kali.

Pas sadar, aku langsung mengerang2 kesakitan karena sakitnya emang luar biasa rasanya. Aku langsung dibopong sama suami dan Bapak ke klinik paman kami yang letaknya gak terlalu jauh dari kantor.

Sesampainya di klinik, aku langsung ditensi. Tapi tensiku katanya udah susah dideteksi. Mata rasanya mulai berat lagi. Tangan udah bener2 gak bisa digerakin. Kaki juga. Bawaannya pengen tidur. Tapi pipiku terus ditepuk2 pelan, "Jangan tidur ya Mba Eka. Usahakan tetap sadar." Akhirnya dengan sekuat tenaga berusaha menjaga agar mata tetap terbuka meskipun gak terbuka sepenuhnya.

Gak lama, perutku melilit makin hebat. Kembali merasakan mual yang luar biasa yang berakhir dengan muntah2 lagi sampe tenaga rasanya udah gak ada untuk sekedar muntah. Setelah muntah, badannya jadi tambah lemes lagi.

Ketika paman kami datang, beliau langsung bilang ke suami agar aku dibawa ke UGD terdekat karena anemianya udah parah.

Begitu sampai di UGD RS terdekat, aku langsung diperiksa tensinya. Tensiku udah di bawah 50/30 katanya. Langsung dikasih infus. Setelah habis satu infus, badan terasa "agak segar". Alhamdulillaah.. Tapi sakit perutnya makin menjadi. Yang tadinya cuma bagian kiri yang sakit, sekarang jadi melebar sakitnya ke seluruh wilayah perut. Setiap bagian perut yang disentuh sama dokter rasanya sakit semua. Dokter awalnya sempet menduga klo ini sakit usus buntu. Tapi aku udah pernah operasi usus buntu, jadi dokter mulai menganalisa kemungkinan yang lain.

"Lagi haidh gak Mba?"
"Iya, Dok. Saya udah haidh agak lama. Udah hampir sebulan belum selesai-selesai juga."
"Ada masalah kandungan gak sebelumnya?"
"Terakhir periksa 2 minggu lalu, saya ada miom, Dok. Sekitar 1 cm."

Dokternya manggut-manggut sebentar. Infus pun diganti dengan yang baru karena yang sebelumnya sudah habis (jeda waktunya gak lama lho padahal).

Setelah masuk di bagian obervasi selama sekitar 1 jam, belum ada perkembangan juga katanya. Tensinya masih rendah. Hb-nya juga rendah banget (lupa nanya berapa Hb-nya waktu itu. Pas aku kontrol lagi ke RS, susternya langsung kenal aku, "Oh, ini Mba yang kemarin di UGD dan Hb-nya rendah banget itu ya?").

Akhirnya dokter merekomendasikan aku untuk diperiksa oleh dokter spesialis kandungan.

1 jam kemudian, aku langsung di bawa ke ruang klinik kandungan untuk di-USG. Pas di-USG, dokternya bilang, "Ini mah Ibu lagi hamil."

"Hah?? Kok bisa, Dok? Saya selalu haidh, Dok setiap bulannya."
"Iya, ini Ibu liat janinnya di sini. Tapi janin Ibu ada di luar kandungan, ini udah pendarahan di dalam. Harus segera diangkat."

Innalillaahi.. makin shock lah aku begitu tau klo aku hamil. Sedih. Sedih luar biasa. Aku harus kehilangan anakku di detik aku tahu bahwa anakku sudah bertumbuh di sana..

Dan kemungkinan janinku itu udah berusia hampir 4 bulan. Ya Allah, kamu ke mana aja, Eka? Masa kamu gak tau klo kamu lagi hamil?

Di tengah2 perasaan kalut itu, aku juga dengar percakapan dokter sama suami.

"Ini Ibunya harus segera dioperasi untuk mengangkat janinnya dan ini bakal butuh persediaan darah yang banyak. Klo terlambat ditangani, takutnya besok Mas gak bisa ngeliat Ibunya senyum lagi."

Masya Allaah.. Rasanya jadi pengen nangis saat itu. Ya Allah.. Aku masih belum siap. Bekalku untuk menemui-Mu masih belum maksimal.. Beri kemudahan, Ya Allah..

Malam itu juga suamiku langsung mencari darah ke PMI Depok. Beberapa hari sebelumnya, suamiku pernah bilang ke aku, "Eka yang sehat2 ya.. Mas takut banget klo misalnya Mas harus nyari darah AB untuk Eka dan persediaannya terbatas."

Alhamdulillah, persediaan darah AB di PMI Depok masih ada dan mencukupi untuk kebutuhan transfusi pasca operasi, 4 kantong. Aku gak bisa ngebayangin gimana paniknya suamiku waktu itu. Maafin Eka ya :'(

Keluar dari klinik kandungan, langsung masuk UGD lagi untuk persiapan operasi. Di sana udah dipasang kabel macem2 untuk ditempel di badan. Ibu selalu ngelarang aku untuk ngeliat layar monitornya. Dan beberapa hari ini aku baru tau klo ternyata Ibu ngelarang aku ngeliat layar monitor karena gak tega. Tensinya kata Ibu udah parah banget rendahnya.

Masuk ruang operasi, trauma operasi usus buntu yang jeda waktunya belum juga sampai satu tahun bikin aku gelisah dan gak biasa diam. Sampai butuh 4 orang dokter dan perawat buat megangin aku sebelum disuntik bius. Maafin ya, Dok, Suster, saya banyak membuat kegaduhan dan kerepotan bahkan di atas meja operasi, saya masih trauma banget sama suasana ruang operasi T.T
*suamiku waktu kuceritain suasana di dalam ruang operasi cuma bisa geleng2 kepala :')

Alhamdulillah operasi berjalan lancar walaupun kata dokternya aku sempet shock pas operasi karena pendarahannya sampai 2 liter :')

Hikmah dan pesan untuk ibu2 muda yang lainnya:

1. Segera lakukan tes kehamilan ketika haidhnya terlambat, walaupun cuma terlambat beberapa hari. Ini untuk mengetahui sejak dini, apakah kamu hamil atau gak. Karena terbukti aku ternyata hamil padahal siklus haidhnya tetap lancar seperti biasa. Jadi klo ada masalah dalam kehamilan, bisa segera ditangani.

2. Rutin2 lah periksa ke dokter spesialis kandungan. Aku pun sebenarnya 2 minggu sebelum kejadian ini udah periksa ke dokter kandungan, bahkan udah di-USG dan pemeriksaan model pap smear. Waktu itu kondisinya aku keluar darah lagi, padahal baru jeda satu minggu dari siklus bulanan sebelumnya. Tapi qadarullah, saat itu dokternya gak bisa mendeteksi klo aku lagi hamil. Dibilangnya ini cuma pendarahan biasa yang mungkin terpicu stres.

Oh iya, yang jadi penyebab kematian dari ibu yang mengalami KET adalah pendarahan yang terlambat ditangani. Karena biasanya KET ini susah dideteksi, dan sering dianggap sakit perut biasa, usus buntu, tyfus, atau penyakit2 perut lainnya. Semakin lama penanganan, semakin hebat pula pendarahan dalam yang dialami si ibu yang tidak diketahui tenaga medis, dan ini bisa berakibat kematian.

3. Aku emang tipe yang cengeng, gak kuat nahan sakit. Seharian aku nangis pasca operasi karena sakitnya luar biasa. Dan kata dokter, ini emang lebih sakit daripada operasi caesar untuk lahiran. Klo kata orang2, mungkin ini rasa sakit melahirkan yang sesungguhnya, ditambah lagi karena emang gak ada motivasi lain, seperti "kehadiran seorang anak". Jadi kemarin itu yang aku rasain emang bener2 "cuma" sakitnya aja karena memang "motivasi anak" itu gak ada. Duh, jadi sedih lagi deh klo inget ini :'(

Oleh karena alasan ini juga, sesungguhnya seorang ibu yang kehilangan anaknya (karena keguguran misalnya) perlu pendampingan yang maksimal dari suami dan keluarga terdekatnya. Kami butuh motivasi untuk mengatasi perasaan "bersalah karena gak bisa menjaga anak dengan baik". Mungkin ini syndrom yang bisa dialami oleh setiap ibu yang baru keguguran.

Jangan sekali2 ngasih komentar yang bernada menyalahkan yaa..

Alhamdulillah suami dan keluarga selalu kasih support penuh.

4. Klo udah ngerasa mau pingsan di kamar mandi, usahakan segera keluar dari sana. Segera menuju tempat yang ada orangnya untuk membantu kamu klo misalnya kamu beneran pingsan.

5. Jangan kunci handphone, atau pastikan ada orang yang tau cara membuka handphone kamu di lingkungan kamu biasa beraktivitas. Alhamdulillah kemarin pas pingsan di kantor, Vira (teman kantor) cepat menghubungi suamiku. Duh, gak kebayang klo misalnya HP kekunci dan gak ada yang tau nomor orang terdekat ketika ada keadaan darurat. Bisa berakibat fatal kan? Dalam kasusku kemarin misalnya. Bisa berakibat kematian klo telat ditangani. Na'udzubillaah.. :'(

Semoga nanti bisa ketemu kamu ya, Nak di jannah-Nya Allah. Dan semoga kehamilan yang berikutnya bisa sehat dan lancar semuanya. Aamiin :')



 

searching for Andromeda Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review