26 Okt 2018

Ta'aruf Series #4; Pertukaran CV

Diposting oleh Zana Zahra di Jumat, Oktober 26, 2018 0 komentar


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Insya Allah udah cukup pembahasan mengenai persiapan di postingan Ta'aruf Series #1 - #3 yaa. Kali ini aku akan bercerita tentang kisah ta'arufku. Semoga bisa menginspirasi (sok-sok'an menginspirasi banget ya? Hahaha...)

Secara garis besar, proses ta'aruf itu terdiri dari tahapan-tahapan berikut:
1. Pertukaran CV (laki-laki baca CV perempuan dulu, klo lanjut, baru si perempuan baca CV laki-laki)
2. Pertemuan pertama bersama guru yang menjadi penyambung
3. Laki-laki datang menemui orangtua perempuan
4. Perempuan datang menemui orangtua laki-laki
5. Proses lamaran
6. Proses persiapan pernikahan
7. Pernikahan

Tahapannya bisa berbeda, tergantung situasi dan kondisi. Aku pun skip langkah yang nomor 4. Dari nomor 3 langsung ke nomor 5.

Okay, kita langsung bercerita mengenai proses pertukaran CV ala Eka dan Mas Suami.

Jadi, sekitar 2 pekan sebelum Ramadhan di tahun 2015 (maapin lupa tanggal dan bulannya), Mba Guru (sebut saja demikian ya. Hehe..) tiba-tiba ngirim sms yang isinya kayak gini:

"Sukunya apa? Usianya sekarang berapa?"

Shock dong ya dapet pertanyaan macam ini :") Walaupun shock tapi tetep bales sms sambil deg-degan. Haha.. Umurku 24 tahun ketika itu. Gak lama kemudian, Mba Guru langsung bales sms lagi minta aku kirim CV ke email beliau. Makin deg-degan dong yes :D

Satu pekan.. Dua pekan lewat.. Gak ada kabar apapun dari si Mba. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk ngomong ke beliau, "Mba, klo prosesnya gak jadi, tolong dikabari ya, Mba. Jangan sampai gak dikabari." Terus udah, gak ada balasan apa-apa. Haha..

Terkesan ngebet atau terburu-buru ya? Tapi ini penting lho.. Sebagai perempuan, kita harus tegas. Biar bisa move on gitu. Klo emang prosesnya gak lanjut ya udah. Kan bisa nyari yang lain :p
Terpikir juga untuk minta bantuan sama temen untuk nyariin jodoh, dan kebetulan waktu itu juga ada yang 'nanyain' (ceilah nanyain :v ).

Lama-lama juga pasrah aja. "Gak jadi ini mah," begitu kira-kira setelah Ramadhan, bahkan Lebaran pun udah lewat 2 pekan.

Hingga suatu hari, aku minta izin gak hadir pertemuan pekanan ke Mba Guru karena sakit. Eh, gak ada angin gak ada hujan, Mba malah balas sms dengan pesan, "Katanya si ikhwan mau lanjut. Tinggal nunggu dia kirim CV aja."

#eeeaaa Langsung deg-degan tingkat dewa XD

Kira-kira siapa ya orangnya? Kenal apa gak ya? Terus klo aku serem sama orangnya (bisa baca definisi serem ala Eka di postingan yang ini) cara nolaknya gimana? Kasih alasan apa? *mikirnya kejauhan woy. Wkwk...*

Ada hikmahnya juga sih aku sakit waktu itu. Jadi, pikiranku gak galau-galau amat. Teralihkan sepenuhnya sama pengurusan dokumen persiapan operasi usus buntu. Duh, ngebayangin perut bakal dibelek-belek aja udah bikin gak bisa tidur, boro-boro mikirin siapa nama ikhwannya.

Dan tiba-tiba... Ini tiba-tiba mulu yak XD Tiba-tiba Mba nge-WA aku yang isinya, "CV-nya mau dikirim sebelum atau setelah operasi?" Beuh, H-2 operasi banget nih. Haha...

Aku jawab, "Terserah Mba aja." Daaan.. 30 menit kemudian.. Jeng.. Jeng.. Jeng.. Notif email di HP bunyi.

Setelah email-nya dibuka, langsung nge-scroll pelan-pelan.

*Sambil nge-scroll ke bawah*

Oh, Mba-nya gak nyebut nama ikhwannya.

*Lanjut scroll lagi*

Lah, kok di history emailnya ada nama yang kayaknya kenal nih. Udah, habis itu bengong ngeliatin history email sampe sekitar 5 menit. Masa' sih kakak yang itu?

*Scroll lagi ke bawah sambil baca bismillah*

Di bawah history email, muncullah nama email yang emang beneran gak asing. Tapi.. Ah, masa' sih? Cuma mirip doang kali nama emailnya.

*Scroll lagi ke bawah*

Lah, iya bener si kakak! Seriusan nih? Kakak yang itu??

*Buru-buru donlot CV-nya. Nama file-nya gak nyantumin nama*

*Harap-harap cemas pas loading buat buka file, macam mau pengumuman hasil PPKB UI aja. Wkwk..*

*File-nya kebuka*

"Ibuuu! Ternyata orangnya kakak yang itu!!" Aku langsung teriak dari kamar atas.

Jadi, belum lama ini ada sebuah tragedi antara aku dan si Kakak itu. Di suatu acara dauroh yang aku dan kakak itu sama-sama jadi panitia, laptopku dipakai untuk keperluan acara. Nah, pas cek sound, si Kakak nge-buka Winamp dong. Dan, tau gak apa itu isi list lagunya? Lagu EXO semua! Hahahahakugakngertilagi XD

Tiga lagu pertama yang diputer sih alhamdulillah lagu EXO yang kalem dan nge-jazzy macam Thunder, December, 2014, sama satu lagi aku lupa. Klo kalian tau lagu EXO yang judulnya MAMA, kalian tau kan itu genre musiknya kayak apa? Nah, kemudian si Kakak nge-klik lagu itu. Mungkin dikiranya lagunya bakal mellow (secara judulnya MAMA gitu lho). Daaann... Yah, selanjutnya speakernya langsung dimatiin. Hahahahaha...

Duh, klo inget kejadian ini selalu bikin ngakak sendiri sih XD

Iya, dan peristiwa ini lagi nge-hits di rumah. Jadi, orang-orang serumah tau siapa nama si Kakak ini karena kejadian itu. *Aku tipe yang suka cerita tentang semua kegiatan sama orang-orang serumah soalnya*

Yah, begitulah, Saudara-saudara drama pertukaran CV ala Eka dan Mas Suami. Setelah operasi, aku langsung nanya-nanya ke beberapa kawan dekat si Kakak ini tentang karakter keseharian beliau.

Si Kakak juga gak ada acara jenguk-jengukan. Beliau aja baru tau klo aku habis operasi usus buntu pas udah nikah. Wkwk...

Seminggu pasca operasi, barulah aku kirim kabar ke Mba klo hasil istikharahku adalah "Lanjut". Dan seperti biasa, sms-nya gak dibales lagi. Tau-tau beberapa hari kemudian, si Mba baru ngabarin lagi klo 3 minggu lagi akan ada pertemuan 8 mata antara aku, si Kakak, dan guru kami masing-masing untuk eksplorasi lebih lanjut.

Hasil Wawancara Mas Suami Setelah Nikah

Q: Kok hasil istikharah setelah liat CV Eka lama sih?
A: Orang CV-nya juga baru dikasih ba'da Lebaran. Biar gak ganggu ibadah Ramadhan katanya.

Q: Terus, yang dilihat CV Eka doang?
A: Gak dong. Haha.. Ada beberapa CV, tapi nama dan fotonya dihapus sama Bang Guru (panggil saja begitu :D )
Q: Gak ada namanya? Terus yang diliat apaan?
A: Murni data diri yang lain. Biar lebih subjektif gitu kata Bang Guru.

Q: Udah ngincer Eka dari jaman SMA yaa? *istri kepedean*
A: Ih, kerajinan amat ngincer-ngincer :v

Kira-kira begitu hasil wawancaranya. Pertanyaan yang terakhir super gak penting. Ditanyakan karena penasaran aja. Wkwkwk...

Update
Mengenai Istikharah Pertama

Berhubung aku tipe anak yang sangat terus terang sama keluarga (apa aja cerita ke keluarga), dari awal proses sebelum aku ngirim CV pun aku udah minta izin ke Ibu. Begitu CV si ikhwannya diterima, semua keluargaku langsung baca.

Untuk proses istikharah, aku tak sendirian. Aku ngajak Ibu sama adekku yang laki-laki buat istikharah juga :D

Kenapa?
1. Karena peristiwa menikah bukan hanya tentang bersatunya dua insan, tapi juga dua keluarga #tsaah
2. Karena do'a Ibu itu mujarab. Insya Allah do'a seorang Ibu gak akan main-main untuk kebaikan anaknya. Dan bisa jadi, ridha Allah turun melalui keridhaan Ibu :)
3. Karena Bapak udah meninggal dunia, otomatis adik laki-laki jadi wali (penanggung jawab) keluarga. Nah, biar sekalian doi belajar mengambil keputusan besar. Doi harus memilih yang terbaik untuk mencari pengganti wali setelah nikah (baca: suami), kan?

Apakah hasil istikharah selalu dikaitkan dengan mimpi? Kayaknya gak juga. Aku ini orang yang suka lupa semalam mimpi apa. Jadi, aku berdo'anya semoga Allah hilangkan rasa "takut nikah" jika ini memang orang yang terbaik. Dan, jika ini bukan yang terbaik, semoga prosesnya emang terputus aja di awal. Maklum, aku tipe yang susah move on klo udah terlanjur ada keterikatan hati #eeaaaa

Alhamdulillaah, selama waktu satu minggu itu perasaanku biasa-biasa aja. Gak ada rasa takut nikah kayak yang sebelum-sebelumnya. Ibu sama adek juga katanya gak ada masalah sama si ikhwannya berdasarkan hasil istikharah. Jadi kesimpulannya, "Mari kita lanjut ke step ta'aruf berikutnya, insya Allah.." :)

27 Agu 2018

Ta'aruf Series #3; Edukasi Diri dan Keluarga

Diposting oleh Zana Zahra di Senin, Agustus 27, 2018 0 komentar


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Kali ini aku akan membahas hal-hal yang perlu dipersiapkan terkait diri dan keluarga untuk kalian yang mau memilih ta'aruf sebagai bagian dari ikhtiar menggenapkan setengah agama #eeaa

1. Pelajari apa itu ta'aruf beserta dengan mekanismenya yang syar'i.
Biar gak perlu bingung, "Kok ta'aruf itu gak boleh ketemu berduaan doang sih?" "Kok ta'aruf gini sih? Kan aku mau nonton bareng ke bioskop sekalian ngobrol untuk kenalan." dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mempertanyakan "batasan-batasan" dalam proses ta'aruf.

Ta'aruf itu kan salah satu metode yang kita harapkan keberkahan serta kebaikan dalam memulai proses panjang ibadah dunia-akhirat (baca: menikah), jadi tentu saja sebisa mungkin kita melakukan prosesnya dalam bingkai syari'at Islam yang baik dan benar ya ^^

Klo aku dulu buat patokan awalnya nonton film Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Haha.. Selebihnya nanya-nanya sama senior yang sudah pengalaman dalam proses ini.

2. Kondisikan keluarga dan edukasi mereka tentang ta'aruf.
Setelah diri sendiri paham akan mekanisme ta'aruf, langkah selanjutnya adalah menjelaskan kepada keluarga tentang cara yang kita mau dalam menjemput jodoh. Jelaskan kalau kita gak mau pacaran dan dalam Islam sudah ada panduan pengenalan calon pasangan sebelum menikah, yaitu dengan proses ta'aruf.

Hal ini penting, biar keluarga gak kaget kalau sehari sebelumnya kita masih ngaku "jomblo", eh sehari kemudian udah punya calon suami XD

Biar keluarga juga tahu klo kita yang gak punya pacar ini bukan karena punya penyakit penyimpangan seksual (lesbi/homo), tapi karena kita memang punya prinsip "no pacaran sebelum nikah." Ini kisah nyata yang terjadi padaku. Hahahahasedihakutuhdibilanglesbi... :")

Cara visualisasi yang mungkin bisa digunakan adalah dengan mengajak keluarga nonton film yang ada adegan ta'arufnya macam Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih #teteup.

3. Persiapkan diri dengan ilmu mengenai pernikahan, berumah tangga, dan pendidikan anak.
Sekarang kan udah banyak ya media pembelajaran mengenai hal ini. Video ceramah di Youtube juga udah banyak. Ustadz yang aku rekomendasikan untuk kamu dengarkan ceramahnya ada Ust. Salim A. Fillah (lebih banyak bahas tentang ta'aruf dan kehidupan awal pernikahan), Ust. Cahyadi Takariawan (membahas kehidupan berumah tangga dan parenting), dan Ust. Bendri (bahasan utama beliau biasanya tentang parenting, tapi sering juga membahas masalah rumah tangga).

Klo aku dulu lebih banyak baca buku karena di rumah belum pasang wifi. Sayang kuota :p

Ini list buku yang aku jadiin bahan persiapan:
1) Fiqh Wanita

2) Sakinah Bersamamu
3) Catatan Harian Seorang Istri
Pastikan baca buku Sakinah Bersamamu dulu yaa sebelum baca buku ini. Daripada nanti kalian kena sindrom takut nikah kayak aku dulu XD
4) Agar Bidadari Cemburu Padamu
5) Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

6) Jalan Cinta Para Pejuang

7) Kado Terindah untuk Istriku
Ini bacaannya Mas Suami sih. Aku juga baca buku serupa, tapi lupa judulnya. Maklum, boleh pinjem. Hehe...

8) Buku Persiapan Kehamilan
Awalnya agak mengernyitkan dahi pas dapet rekomendasi buku ini dari teman. Tapi, ternyata bermanfaat juga. Dan memang persiapan kehamilan itu sebaiknya memang dilakukan dari sebelum menikah :)

Itu tadi buku-buku yang kubaca untuk persiapan menikah. Kebanyakan emang yang buku populer yang penjelasannya mengalir bak novel gitu (Asma Nadia sama Salim A. Fillah, gitu lho). Aku lebih suka buku dengan tipe penulisan kayak gitu soalnya. Hehe..

Nah, setelah menikah, aku juga merekomendasikan beberapa buku berikut. Aku telat bacanya. Tau gitu ini buku kubaca juga sebelum nikah :")

9) Psikologi Suami Istri

10) Prophetic Parenting


11) Bilik-Bilik Cinta Muhammad

12) Salihah Mom's Diary
Buku ini belum lama terbit sih. Klo udah terbit dari jaman belum nikah, kayanya bakal langsung dibaca juga. Bagus buat bahan study kasus :")

Buku-buku ini doang yang aku inget. Nanti klo inget lagi, aku update di postingan ini ya list bukunya, insya Allah.

Semoga bermanfaat. Selamat mempersiapkan diri ya. Semoga Allah memberkahi. Aamiin :)

10 Jan 2018

Apresiasi dan Depresi; Sebuah Curhat Colongan dari Ibu Baru

Diposting oleh Zana di Rabu, Januari 10, 2018 2 komentar
Sumber gambar: http://eggzack.s3.amazonaws.com/cg1-x62alo5s3h-DPc4A3FvCtnMNrTgMjmA8oc.jpg

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Bulan Desember 2017 adalah bulan hebohnya aku dengan kabar meninggalnya Jonghyun SHINee akibat bunuh diri karena depresi. Heboh karena aku udah ngikutin grup ini dari tahun 2009. Heboh karena beberapa hari sebelumnya aku sempet baca berita konser tunggalnya di Seoul.

Gak nyangka Jjong bisa mengambil jalan pintas ini. Di depan kamera, Jjong ini termasuk member yang heboh lho. Suka bercanda, bikin member yang lain ketawa-tawa, ramah sama junior-juniornya, pun Jjong ini terlihat punya banyak banget teman. Tipe supel gitu sepertinya.

Tapi kenapa bisa sampai depresi? Kenapa?

Setelah ngulik-ngulik berita, ternyata Jjong ini sepertinya tipe perfeksionis. Dia selalu merasa gak puas sama hasil karyanya sendiri. Padahal lagu-lagu dan tulisan Jjong ini bagus. Multi talented lah pokoknya. Dan yang bikin menyentuh adalah pesan terakhirnya untuk sang kakak,

"It's been hard", "Let me go. Tell me I've worked hard. This is my farewell."

Iya, dia butuh apresiasi bahkan hingga saat terakhirnya.

Menurutku, kebutuhan akan apresiasi adalah suatu fitrah. Manusiawi banget.

Apresiasi bisa membuat kita semakin terpacu untuk bisa lebih baik lagi. Pun apresiasi bisa meringankan sedikit beban di kala lelah.

Buat ibu baru kayak aku ini, terasa banget lho betapa apresiasi itu sangat membantu. Contohnya ketika aku baru selesai proses persalinan. Di saat sakit karena bekas jahitan dan capek fisik, bahagia banget rasanya ketika membaca pesan-pesan di grup whatsapp dari keluarga besar Ibu.

"Wah, Mba Eka pinter yaa ngedennya.."
"Selamat ya Mba Eka, udah jadi ibu nih sekarang."
"Cucu Mbah pinter banget. Sekarang udah happy lagi kan?"

Biasanya kan yang dapet ucapan dan doa itu bayinya doang. Tapi alhamdulillah, Mbah Uti, Om, Bulik gak pernah lupa ngasih pujian dan doa buat ibunya juga. Sesenang itu rasanya. I love you full lah Kusumajayas' :*

Konon kabarnya, ibu yang baru saja melahirkan itu rentan mengalami depresi. Aku pun mengalami baby blues, mungkin sampai saat ini pun masih suka nge-blues klo ada faktor pemancingnya. Haha..

Kelelahan begadang menyusui bayi, cucian baju berember-ember setiap hari (fyi, aku kalau nyuci baju anakku, baju dalam, dan kaos kaki itu harus dicuci pakai tangan, bukan mesin cuci biar bersih. Mungkin ini sisi perfeksionisku. Haha..), bolak-balik ganti popok, harus nunda-nunda makan klo bayinya belum mau ditinggal (fyi lagi, aku ini klo telat makan, maag atau migrainnya bisa langsung kumat), itu gak terlalu berat kalau harus dibandingkan dengan harus dengerin komentar orang. Apalagi klo orang yang komentar itu tipenya diulang-ulang terus. Belum lagi klo dapet omelan, dan diomelinnya di depan orang banyak. Ini mah udah sukses bakal bikin nangis bombay.

"Itu air susunya keluar gak sih? Apa anaknya bakal kenyang?"
"Gak sabaran banget sih."
Dan sebagainya, dan sebagainya, yang intinya nyalahin.

Pokoknya serasa bayi itu gak boleh nangis sedikit pun. Nangis dikit, berarti ibunya gak becus. Gitu.

Namanya juga ibu baru, masih belajar. Dan yang namanya ibu itu harus bahagia biar asi-nya banyak. Klo dikomentarin gini, terus ibunya jadi sedih, terus asi-nya jadi gak maksimal, siapa yang harus disalahin? Ibunya lagi? *Maap jadi rada emosi -.-v)

Klo udah nge-blues gini, biasanya Mas Suami harus sabar ngelus-ngelus punggung istrinya yang lagi mewek.

Anyway, di sini aku juga mau menyuarakan hati seorang ibu baru #tsaah.

Ibu itu juga harus diperhatikan lho, bukan cuma anaknya doang. Apalagi ibu baru yang harus beradaptasi dengan dunia baru di mana segalanya berubah. Dunia di mana perhatian semua orang sudah tertuju untuk si bayi. Dunia di mana mereka harus merelakan jam istirahatnya demi sang buah hati. Tentu apresiasi bisa sangat menghibur mereka. Klo gak bisa mengapresiasi, minimal gak usah lah ya kasih komentar yang bikin mereka sedih.

Ibu gak boleh baper? Memang baiknya begitu. Tapi baper pun terkadang muncul bukan karena keinginannya sendiri. Ada banyak faktor. Lelah dan perubahan hormon misalnya. Jadi, tolong dibantu ya Pak Bapak dan Bu Ibu :D Jangan sampai blues-nya mereka ini berubah jadi Postpartum Depression. Tentunya ini bisa membahayakan Ibu dan bayinya.

Klo mau ngasih masukan, tolong banget, gunakan bahasa yang bukan men-judge. Nadanya gak usah tinggi-tinggi. Atau bisa juga disampaikan ke suami atau Ibu biar nanti bisa lebih "disaring" lagi masukannya. Menyesuaikan dengan kondisi si ibu baru ini. Karena biasanya suami kan yang paling paham kondisi istri. Pun Ibu-nya si ibu baru (?) ini juga paham dengan kondisi anaknya (di samping beliau juga pernah merasakan hal yang sama sebelumnya).

Dan, ngomelin si ibu baru ini di depan umum (include dalam lingkup keluarga) is A BIG NO NO NO. Paham kan alasannya? Klo belum paham, bisa lah ditanyakan langsung ke aku :")

Dan buat ibu-ibu nge-blues kayak aku ini, yuk, kita saling mengingatkan.

Yuk, kita perbanyak tilawah.
Yuk, kita perbanyak berdo'a langsung ke Allah. Meminta untuk dikuatkan dalam menjaga dan mendidik anak-anak kita.
Yuk, kita saling mengingatkan bahwa Allah selalu ada untuk kita, dan gak pernah membuat hamba-Nya bersedih :")

Allah selalu memberikan kemudahan di setiap kesulitan.

Semoga Allah memberi jalan kepada kita untuk bisa bergembira dengan kemudahan-kemudahan yang sudah Ia berikan. Aamiin :")

Untuk para ibu, THANK YOU FOR BEING AWESOME! Barakallaahulakum :*

30 Nov 2017

Ta'aruf Series #2; Sudah Siap Menikah atau Belum?

Diposting oleh Zana di Kamis, November 30, 2017 0 komentar

Bismillaahirrahmaanirrahim...

Sudah siap nikah atau belum?

Pertanyaan ini jadi pertanyaan sakti yang hati suka jadi dag-dig-dug sendiri buat jawab. Antara ke-geer-an, "Wah, kayaknya ada yang mau nyariin jodoh nih," sama ketakutan kalau seandainya yang nanya beneran mau nyariin jodoh (lah, terus maumu apa? Wkwk.. )

Bukan apa-apa. Klo beneran dicariin, terus dapet orangnya, terus kita ngerasa gak cocok kan jadi suka bingung gimana nolaknya. Iya, kan? Udah, iya-in aja dulu :p

Aku pun dulu suka bingung gimana nentuin kesiapan menikah. Pernah juga nanya ke seorang guru senior di tempatku dulu mengajar. Lalu jawaban beliau, "Klo sudah ada orang yang datang ke Ibu, berarti Bu Eka sudah siap." Momen bertanyanya pun tepat sekali dengan tawaran seseorang yang mau mengenalkanku dengan seseorang (?). Tapi, aku gak cocok sama orangnya. Aku masih takut nikah. Aku belum siap.

Dari situ, aku bisa mengambil kesimpulan sementara bahwa kecocokan dan ketidaktakutan (?) pun bisa menjadi salah satu standar kesiapan.

Aku lalu bertanya kepada guru senior lainnya, dan jawaban beliau seperti ini:

"Nikah itu bukan masalah siap atau gak siap, Bu Eka. Nikah itu ya harus di-siap-siap-in. Siapnya harus diusahakan. Dengan banyak baca buku misalnya. Atau hal lainnya."

Wah ini, salah satu nasihat yang lumayan bikin jleb. Hehe..

Setelah dipikir-pikir lagi, aku masih takut nikah. Iya, aku jadi takut nikah karena sering banget denger masalah-masalah rumah tangga. Mulai dari masalah ekonomi, KDRT, sampe masalah yang gak pernah terpikirkan sebelumnya, si suami ternyata penyuka sesama jenis! Na'udzubillaahimindzalik T.T

Masa-masa pengen nikah di tengah berbagai permasalahan yang melanda pun ada. Saat lelah dengan tugas-tugas kuliah misalnya. Hihi..

Tapi, semangat nikah itu langsung buyar tatkala buku Catatan Harian Seorang Istri selesai dibaca. Haha.. Aku salah baca buku, harusnya baca buku Sakinah Bersamamu dulu, baru Catatan Harian Seorang Istri. Biar baca yang senang-senang dulu, baru yang susah-susah.

Yasudahlah.. Makin takut nikah deh itu. Mari kita nikmati masa-masa single semaksimal mungkin :")

Sebenernya jadi single menyenangkan kok. Bebas jalan-jalan, bebas leyeh-leyeh, bebas jajan-jajan. Tapi kan gak bisa begini terus ya.. Umur udah masuk 24 tahun masa' masih takut nikah. Terus nanti mau nikah umur berapa?

Pelan-pelan mulai baca buku yang isinya tentang hal yang menyenangkan ketika menikah. Hehe.. Baca-baca tulisannya Salim A. Fillah, buku Fiqh Wanita, dan dengerin ceramah tentang ta'aruf dan persiapan menikah.

Emangnya calonnya udah ada? Waktu itu sih masih belum ada XD

Yah, siapa tau kan, Allah membukakan jalan bertemu dengan Andromeda di saat kita juga maksimal mempersiapkan diri dengan ilmu pernikahan dan udah gak takut nikah lagi :)

12 Nov 2017

Duka Sedalam Cinta; KMGP 2-nya Mana?

Diposting oleh Zana di Minggu, November 12, 2017 0 komentar

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Nah, ini dia nih yang ditunggu-tunggu. Akhirnya lanjutan film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP 1) tayang juga!

Lama rasanya tak terdengar kabar tayang KMGP 2. Sampai-sampai aku mikir, “Jangan-jangan ini lanjutan filmnya gak ada karena Gita-nya udah berjilbab sekarang.” Hehe.. Anyway, semoga semakin keren ya Mba Aquino Umar :3

Nah, suatu ketika aku iseng-iseng nih scrolling timeline Instagram Mba Helvy. Waktu itu, di timeline Mba Helvy lagi in tentang film 212. Lah, KMGP 2-nya mana?

Scroll lagi, scroll terus. Sambil sesekali baca caption di foto yang menarik. Eh, kok ada film baru lagi? Judulnya “Duka Sedalam Cinta”. Lah, KMGP 2-nya mana? (Terus aja ini pertanyaannya nongol di sini :p )

Jadi makin patah semangat nunggu KMGP 2

Mungkin ini yang namanya “bisikan hati”. Hati kok rasanya makin penasaran. Masa’ sih KMGP 2 gak jadi tayang? Akhirnya bener-bener dikepoin deh instagramnya Mba Helvy. Dibacain caption-nya satu-satu. Daaannn… Duka Sedalam Cinta (DSC) itu ternyata judul untuk film KMGP 2, Saudara-saudara. Haha… *jitak diri sendiri*

Bener kata admin @dukasedalamcinta. Kebaikan tidak boleh ditunda. Aku dan suami menonton film ini di XXI Plaza Depok tanggal 31 Oktober 2017 dan setelah aku lihat di akun @dukasedalamcinta, film ini sudah turun layar di tanggal 2 atau 3 November 2017 (aku lupa tanggal pastinya).

Film ini dibuka dengan memperlihatkan logo KMGP picture. Aku dan suami sontak langsung mengucapkan “Masya Allah…” Bahkan film ini pun diproduksi secara mandiri oleh tim KMGP. Salut!

Menonton film DSC membuat aku bersyukur bahwa masih ada film dengan muatan super positif buatan anak negeri. Mba Helvy dan tim berhasil menciptakan karya keren ini tanpa ada sedikit pun kata-kata kotor dan adegan yang membahayakan untuk ditonton.

Kalau di KMGP 1 aku baper sama Mas Gagah, di DSC ini aku sukses dibuat baper sama Gita. Ada ya ternyata anak yang tadinya gaulll banget penampilannya, tapi gak menutup diri terhadap kebaikan. Walau mungkin awalnya agak terpaksa kali ya. Hehe..

Di salah satu scene, bahkan Gita gak malu untuk tampil di sebuah acara yang mayoritas pesertanya sudah berjilbab. Dan pertanyaan yang Gita ajukan benar-benar mewakili pertanyaan orang banyak. “Kenapa sih harus pakai jilbab? Kenapa gak jilbabin hati dulu?”

Jawaban untuk pertanyaan Gita pun semakin mencerahkan aku yang suka bingung kalau ditanya pertanyaan sejenis ini. Jawaban yang lugas tetapi tidak menggurui. Mau tau jawabannya seperti apa? Teman-teman bisa menemukan jawabannya di film ini. Tonton yaa :*

Konflik yang terjadi di DSC ini merupakan puncak dari berbagai konflik yang sudah dimulai di film KMGP 1. Semua permasalahan Mas Gagah, Gita, dan Mas Fiisabilillah terjawab dengan tuntas. Alhamdulillaah...

Tak hanya berisi tentang permasalahan seputar Mas Gagah dan orang-orang di sekitarnya, DSC juga mengangkat permasalahan di wilayah kepulauan nun jauh dari Pulau Jawa. Wah, ternyata potensi alam di sana besar banget, lho. Dan pemimpin yang diceritakan di film ini berhasil membawa solusi untuk perbaikan masyarakatnya. Masya Allah..

Sinematografi DSC dikemas dengan baguuuss sekali. Yang paling membekas untukku ya tentang keindahan alam Halmahera. Duh, kujadi ingin ke sana suatu hari nanti.

Buat teman-teman yang belum menonton film KMGP 1 mungkin bakal agak bingung dengan alur ceritanya. Alur cerita DSC kebanyakan bersifat maju-mundur. Mungkin hal ini bisa membuat kalian jadi bingung kalau gak menyimak cerita dengan seksama. Dan yang terpenting, dengan menonton KMGP 1, kalian akan lebih bisa memahami ikatan yang erat antara Mas Gagah dan Gita :”)

Iya, Mas Gagah ini memang yang paling bisa bikin baper. Alhamdulillah aku udah punya si Mas Andromeda, jadi bisa menetralkan nasib seorang anak pertama yang gak punya kakak laki-laki. Haha.. :”)

Aku kasih nilai 90 dari total 100 untuk DSC. Semangat selalu Mba Helvy dan tim! :*

Oiya, boleh aku sedikit berbagi tentang tips menonton DSC untuk anak bayi? :D

Jadi, aku dan suami juga mengajak anak kami yang masih berusia 6 bulan. Bayi memang sebaiknya tidak dibawa menonton ke bioskop karena khawatir bisa merusak syaraf pendengarannya yang masih berkembang. Dan mungkin juga bisa mengganggu penonton yang lain kalau bayinya menangis. 

Jadi, kemarin kami menyiasatinya dengan memasangkan penutup telinga untuk mengurangi suara dentuman audio di studio bioskop. Telinganya pun saya tutup dengan tangan ketika menonton. Tapi alhamdulillaah, audio DSC ini tidak bersifat “menggelegar” sehingga tidak membuat bayi kaget dan juga tidak terlalu mengganggu pendengaran.

Anak kami juga kami pakaikan jaket serta kaus kaki hangat karena studio bioskop ini memang lumayan dingin. Anak kami juga tetap kugendong agar badannya selalu hangat.

Walau pada akhirnya aku tetap menyarankan untuk tidak membawa bayi ke bioskop ya. Kalau ada yang bisa menjaga bayi kita di rumah, mending di rumah aja bayinya 😊
 

searching for Andromeda Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review