10 Jan 2018

Apresiasi dan Depresi; Sebuah Curhat Colongan dari Ibu Baru

Diposting oleh Zana di Rabu, Januari 10, 2018 1 komentar
Sumber gambar: http://eggzack.s3.amazonaws.com/cg1-x62alo5s3h-DPc4A3FvCtnMNrTgMjmA8oc.jpg

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Bulan Desember 2017 adalah bulan hebohnya aku dengan kabar meninggalnya Jonghyun SHINee akibat bunuh diri karena depresi. Heboh karena aku udah ngikutin grup ini dari tahun 2009. Heboh karena beberapa hari sebelumnya aku sempet baca berita konser tunggalnya di Seoul.

Gak nyangka Jjong bisa mengambil jalan pintas ini. Di depan kamera, Jjong ini termasuk member yang heboh lho. Suka bercanda, bikin member yang lain ketawa-tawa, ramah sama junior-juniornya, pun Jjong ini terlihat punya banyak banget teman. Tipe supel gitu sepertinya.

Tapi kenapa bisa sampai depresi? Kenapa?

Setelah ngulik-ngulik berita, ternyata Jjong ini sepertinya tipe perfeksionis. Dia selalu merasa gak puas sama hasil karyanya sendiri. Padahal lagu-lagu dan tulisan Jjong ini bagus. Multi talented lah pokoknya. Dan yang bikin menyentuh adalah pesan terakhirnya untuk sang kakak,

"It's been hard", "Let me go. Tell me I've worked hard. This is my farewell."

Iya, dia butuh apresiasi bahkan hingga saat terakhirnya.

Menurutku, kebutuhan akan apresiasi adalah suatu fitrah. Manusiawi banget.

Apresiasi bisa membuat kita semakin terpacu untuk bisa lebih baik lagi. Pun apresiasi bisa meringankan sedikit beban di kala lelah.

Buat ibu baru kayak aku ini, terasa banget lho betapa apresiasi itu sangat membantu. Contohnya ketika aku baru selesai proses persalinan. Di saat sakit karena bekas jahitan dan capek fisik, bahagia banget rasanya ketika membaca pesan-pesan di grup whatsapp dari keluarga besar Ibu.

"Wah, Mba Eka pinter yaa ngedennya.."
"Selamat ya Mba Eka, udah jadi ibu nih sekarang."
"Cucu Mbah pinter banget. Sekarang udah happy lagi kan?"

Biasanya kan yang dapet ucapan dan doa itu bayinya doang. Tapi alhamdulillah, Mbah Uti, Om, Bulik gak pernah lupa ngasih pujian dan doa buat ibunya juga. Sesenang itu rasanya. I love you full lah Kusumajayas' :*

Konon kabarnya, ibu yang baru saja melahirkan itu rentan mengalami depresi. Aku pun mengalami baby blues, mungkin sampai saat ini pun masih suka nge-blues klo ada faktor pemancingnya. Haha..

Kelelahan begadang menyusui bayi, cucian baju berember-ember setiap hari (fyi, aku kalau nyuci baju anakku, baju dalam, dan kaos kaki itu harus dicuci pakai tangan, bukan mesin cuci biar bersih. Mungkin ini sisi perfeksionisku. Haha..), bolak-balik ganti popok, harus nunda-nunda makan klo bayinya belum mau ditinggal (fyi lagi, aku ini klo telat makan, maag atau migrainnya bisa langsung kumat), itu gak terlalu berat kalau harus dibandingkan dengan harus dengerin komentar orang. Apalagi klo orang yang komentar itu tipenya diulang-ulang terus. Belum lagi klo dapet omelan, dan diomelinnya di depan orang banyak. Ini mah udah sukses bakal bikin nangis bombay.

"Itu air susunya keluar gak sih? Apa anaknya bakal kenyang?"
"Gak sabaran banget sih."
Dan sebagainya, dan sebagainya, yang intinya nyalahin.

Pokoknya serasa bayi itu gak boleh nangis sedikit pun. Nangis dikit, berarti ibunya gak becus. Gitu.

Namanya juga ibu baru, masih belajar. Dan yang namanya ibu itu harus bahagia biar asi-nya banyak. Klo dikomentarin gini, terus ibunya jadi sedih, terus asi-nya jadi gak maksimal, siapa yang harus disalahin? Ibunya lagi? *Maap jadi rada emosi -.-v)

Klo udah nge-blues gini, biasanya Mas Suami harus sabar ngelus-ngelus punggung istrinya yang lagi mewek.

Anyway, di sini aku juga mau menyuarakan hati seorang ibu baru #tsaah.

Ibu itu juga harus diperhatikan lho, bukan cuma anaknya doang. Apalagi ibu baru yang harus beradaptasi dengan dunia baru di mana segalanya berubah. Dunia di mana perhatian semua orang sudah tertuju untuk si bayi. Dunia di mana mereka harus merelakan jam istirahatnya demi sang buah hati. Tentu apresiasi bisa sangat menghibur mereka. Klo gak bisa mengapresiasi, minimal gak usah lah ya kasih komentar yang bikin mereka sedih.

Ibu gak boleh baper? Memang baiknya begitu. Tapi baper pun terkadang muncul bukan karena keinginannya sendiri. Ada banyak faktor. Lelah dan perubahan hormon misalnya. Jadi, tolong dibantu ya Pak Bapak dan Bu Ibu :D Jangan sampai blues-nya mereka ini berubah jadi Postpartum Depression. Tentunya ini bisa membahayakan Ibu dan bayinya.

Klo mau ngasih masukan, tolong banget, gunakan bahasa yang bukan men-judge. Nadanya gak usah tinggi-tinggi. Atau bisa juga disampaikan ke suami atau Ibu biar nanti bisa lebih "disaring" lagi masukannya. Menyesuaikan dengan kondisi si ibu baru ini. Karena biasanya suami kan yang paling paham kondisi istri. Pun Ibu-nya si ibu baru (?) ini juga paham dengan kondisi anaknya (di samping beliau juga pernah merasakan hal yang sama sebelumnya).

Dan, ngomelin si ibu baru ini di depan umum (include dalam lingkup keluarga) is A BIG NO NO NO. Paham kan alasannya? Klo belum paham, bisa lah ditanyakan langsung ke aku :")

Dan buat ibu-ibu nge-blues kayak aku ini, yuk, kita saling mengingatkan.

Yuk, kita perbanyak tilawah.
Yuk, kita perbanyak berdo'a langsung ke Allah. Meminta untuk dikuatkan dalam menjaga dan mendidik anak-anak kita.
Yuk, kita saling mengingatkan bahwa Allah selalu ada untuk kita, dan gak pernah membuat hamba-Nya bersedih :")

Allah selalu memberikan kemudahan di setiap kesulitan.

Semoga Allah memberi jalan kepada kita untuk bisa bergembira dengan kemudahan-kemudahan yang sudah Ia berikan. Aamiin :")

Untuk para ibu, THANK YOU FOR BEING AWESOME! Barakallaahulakum :*

30 Nov 2017

Ta'aruf Series #2; Sudah Siap Menikah atau Belum?

Diposting oleh Zana di Kamis, November 30, 2017 0 komentar

Bismillaahirrahmaanirrahim...

Sudah siap nikah atau belum?

Pertanyaan ini jadi pertanyaan sakti yang hati suka jadi dag-dig-dug sendiri buat jawab. Antara ke-geer-an, "Wah, kayaknya ada yang mau nyariin jodoh nih," sama ketakutan kalau seandainya yang nanya beneran mau nyariin jodoh (lah, terus maumu apa? Wkwk.. )

Bukan apa-apa. Klo beneran dicariin, terus dapet orangnya, terus kita ngerasa gak cocok kan jadi suka bingung gimana nolaknya. Iya, kan? Udah, iya-in aja dulu :p

Aku pun dulu suka bingung gimana nentuin kesiapan menikah. Pernah juga nanya ke seorang guru senior di tempatku dulu mengajar. Lalu jawaban beliau, "Klo sudah ada orang yang datang ke Ibu, berarti Bu Eka sudah siap." Momen bertanyanya pun tepat sekali dengan tawaran seseorang yang mau mengenalkanku dengan seseorang (?). Tapi, aku gak cocok sama orangnya. Aku masih takut nikah. Aku belum siap.

Dari situ, aku bisa mengambil kesimpulan sementara bahwa kecocokan dan ketidaktakutan (?) pun bisa menjadi salah satu standar kesiapan.

Aku lalu bertanya kepada guru senior lainnya, dan jawaban beliau seperti ini:

"Nikah itu bukan masalah siap atau gak siap, Bu Eka. Nikah itu ya harus di-siap-siap-in. Siapnya harus diusahakan. Dengan banyak baca buku misalnya. Atau hal lainnya."

Wah ini, salah satu nasihat yang lumayan bikin jleb. Hehe..

Setelah dipikir-pikir lagi, aku masih takut nikah. Iya, aku jadi takut nikah karena sering banget denger masalah-masalah rumah tangga. Mulai dari masalah ekonomi, KDRT, sampe masalah yang gak pernah terpikirkan sebelumnya, si suami ternyata penyuka sesama jenis! Na'udzubillaahimindzalik T.T

Masa-masa pengen nikah di tengah berbagai permasalahan yang melanda pun ada. Saat lelah dengan tugas-tugas kuliah misalnya. Hihi..

Tapi, semangat nikah itu langsung buyar tatkala buku Catatan Harian Seorang Istri selesai dibaca. Haha.. Aku salah baca buku, harusnya baca buku Sakinah Bersamamu dulu, baru Catatan Harian Seorang Istri. Biar baca yang senang-senang dulu, baru yang susah-susah.

Yasudahlah.. Makin takut nikah deh itu. Mari kita nikmati masa-masa single semaksimal mungkin :")

Sebenernya jadi single menyenangkan kok. Bebas jalan-jalan, bebas leyeh-leyeh, bebas jajan-jajan. Tapi kan gak bisa begini terus ya.. Umur udah masuk 24 tahun masa' masih takut nikah. Terus nanti mau nikah umur berapa?

Pelan-pelan mulai baca buku yang isinya tentang hal yang menyenangkan ketika menikah. Hehe.. Baca-baca tulisannya Salim A. Fillah, buku Fiqh Wanita, dan dengerin ceramah tentang ta'aruf dan persiapan menikah.

Emangnya calonnya udah ada? Waktu itu sih masih belum ada XD

Yah, siapa tau kan, Allah membukakan jalan bertemu dengan Andromeda di saat kita juga maksimal mempersiapkan diri dengan ilmu pernikahan dan udah gak takut nikah lagi :)

12 Nov 2017

Duka Sedalam Cinta; KMGP 2-nya Mana?

Diposting oleh Zana di Minggu, November 12, 2017 0 komentar

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Nah, ini dia nih yang ditunggu-tunggu. Akhirnya lanjutan film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP 1) tayang juga!

Lama rasanya tak terdengar kabar tayang KMGP 2. Sampai-sampai aku mikir, “Jangan-jangan ini lanjutan filmnya gak ada karena Gita-nya udah berjilbab sekarang.” Hehe.. Anyway, semoga semakin keren ya Mba Aquino Umar :3

Nah, suatu ketika aku iseng-iseng nih scrolling timeline Instagram Mba Helvy. Waktu itu, di timeline Mba Helvy lagi in tentang film 212. Lah, KMGP 2-nya mana?

Scroll lagi, scroll terus. Sambil sesekali baca caption di foto yang menarik. Eh, kok ada film baru lagi? Judulnya “Duka Sedalam Cinta”. Lah, KMGP 2-nya mana? (Terus aja ini pertanyaannya nongol di sini :p )

Jadi makin patah semangat nunggu KMGP 2

Mungkin ini yang namanya “bisikan hati”. Hati kok rasanya makin penasaran. Masa’ sih KMGP 2 gak jadi tayang? Akhirnya bener-bener dikepoin deh instagramnya Mba Helvy. Dibacain caption-nya satu-satu. Daaannn… Duka Sedalam Cinta (DSC) itu ternyata judul untuk film KMGP 2, Saudara-saudara. Haha… *jitak diri sendiri*

Bener kata admin @dukasedalamcinta. Kebaikan tidak boleh ditunda. Aku dan suami menonton film ini di XXI Plaza Depok tanggal 31 Oktober 2017 dan setelah aku lihat di akun @dukasedalamcinta, film ini sudah turun layar di tanggal 2 atau 3 November 2017 (aku lupa tanggal pastinya).

Film ini dibuka dengan memperlihatkan logo KMGP picture. Aku dan suami sontak langsung mengucapkan “Masya Allah…” Bahkan film ini pun diproduksi secara mandiri oleh tim KMGP. Salut!

Menonton film DSC membuat aku bersyukur bahwa masih ada film dengan muatan super positif buatan anak negeri. Mba Helvy dan tim berhasil menciptakan karya keren ini tanpa ada sedikit pun kata-kata kotor dan adegan yang membahayakan untuk ditonton.

Kalau di KMGP 1 aku baper sama Mas Gagah, di DSC ini aku sukses dibuat baper sama Gita. Ada ya ternyata anak yang tadinya gaulll banget penampilannya, tapi gak menutup diri terhadap kebaikan. Walau mungkin awalnya agak terpaksa kali ya. Hehe..

Di salah satu scene, bahkan Gita gak malu untuk tampil di sebuah acara yang mayoritas pesertanya sudah berjilbab. Dan pertanyaan yang Gita ajukan benar-benar mewakili pertanyaan orang banyak. “Kenapa sih harus pakai jilbab? Kenapa gak jilbabin hati dulu?”

Jawaban untuk pertanyaan Gita pun semakin mencerahkan aku yang suka bingung kalau ditanya pertanyaan sejenis ini. Jawaban yang lugas tetapi tidak menggurui. Mau tau jawabannya seperti apa? Teman-teman bisa menemukan jawabannya di film ini. Tonton yaa :*

Konflik yang terjadi di DSC ini merupakan puncak dari berbagai konflik yang sudah dimulai di film KMGP 1. Semua permasalahan Mas Gagah, Gita, dan Mas Fiisabilillah terjawab dengan tuntas. Alhamdulillaah...

Tak hanya berisi tentang permasalahan seputar Mas Gagah dan orang-orang di sekitarnya, DSC juga mengangkat permasalahan di wilayah kepulauan nun jauh dari Pulau Jawa. Wah, ternyata potensi alam di sana besar banget, lho. Dan pemimpin yang diceritakan di film ini berhasil membawa solusi untuk perbaikan masyarakatnya. Masya Allah..

Sinematografi DSC dikemas dengan baguuuss sekali. Yang paling membekas untukku ya tentang keindahan alam Halmahera. Duh, kujadi ingin ke sana suatu hari nanti.

Buat teman-teman yang belum menonton film KMGP 1 mungkin bakal agak bingung dengan alur ceritanya. Alur cerita DSC kebanyakan bersifat maju-mundur. Mungkin hal ini bisa membuat kalian jadi bingung kalau gak menyimak cerita dengan seksama. Dan yang terpenting, dengan menonton KMGP 1, kalian akan lebih bisa memahami ikatan yang erat antara Mas Gagah dan Gita :”)

Iya, Mas Gagah ini memang yang paling bisa bikin baper. Alhamdulillah aku udah punya si Mas Andromeda, jadi bisa menetralkan nasib seorang anak pertama yang gak punya kakak laki-laki. Haha.. :”)

Aku kasih nilai 90 dari total 100 untuk DSC. Semangat selalu Mba Helvy dan tim! :*

Oiya, boleh aku sedikit berbagi tentang tips menonton DSC untuk anak bayi? :D

Jadi, aku dan suami juga mengajak anak kami yang masih berusia 6 bulan. Bayi memang sebaiknya tidak dibawa menonton ke bioskop karena khawatir bisa merusak syaraf pendengarannya yang masih berkembang. Dan mungkin juga bisa mengganggu penonton yang lain kalau bayinya menangis. 

Jadi, kemarin kami menyiasatinya dengan memasangkan penutup telinga untuk mengurangi suara dentuman audio di studio bioskop. Telinganya pun saya tutup dengan tangan ketika menonton. Tapi alhamdulillaah, audio DSC ini tidak bersifat “menggelegar” sehingga tidak membuat bayi kaget dan juga tidak terlalu mengganggu pendengaran.

Anak kami juga kami pakaikan jaket serta kaus kaki hangat karena studio bioskop ini memang lumayan dingin. Anak kami juga tetap kugendong agar badannya selalu hangat.

Walau pada akhirnya aku tetap menyarankan untuk tidak membawa bayi ke bioskop ya. Kalau ada yang bisa menjaga bayi kita di rumah, mending di rumah aja bayinya 😊

9 Nov 2017

Perpanjang SIM di Depok

Diposting oleh Zana di Kamis, November 09, 2017 0 komentar
Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Gak terasa ternyata sudah lima tahun yang lalu punya SIM. Apalagi sudah setahunan ini gak ngendarain motor sendiri alias diboncengin terus. Hehe..

Kali ini aku mau nge-share alur perpanjangan SIM di Kantor Pelayanan Penerbitan Surat Izin Mengemudi (seingetku nama kantornya ini. Semoga gak salah yaa) Depok yang terletak di Pasar Segar, Jalan Tole Iskandar.

Aku dan suami memutuskan untuk membawa bayi kami saat mengurus perpanjangan SIM karena di rumah gak ada orang. Udah kebayang deh ini gimana ribetnya ngantri-ngantri sambil bawa bayi :")

Alhamdulillah si bayi anteng selama di perjalanan. Sampai di Pasar Segar sekitar jam 10 pagi. Agak deg-degan sih ngeliat banyak banget bapak-bapak yang ngerokok :( Kepala si bayi pun semakin aku rapatkan ke dalam gendongan untuk meminimalisir asap rokok biar gak terhirup. Sambil berdoa semoga antriannya gak panjang dan si bayi gak rewel.

Memasuki depan kantor pelayanan, kami bertanya ke seorang petugas tentang alur perpanjangan SIM. Kami lalu diarahkan menuju ke arah belakang untuk pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Dan bapak-bapak yang lagi nongkrong sambil ngerokok di kantin-kantin belakang semakin banyak :(

Tempat cek kesehatannya terdiri dari dua ruangan. Ruangan depan tempat cek tensi dan bayar biaya administrasi. Di ruangan dalam aku lihat ada seorang dokter jaga. Kayanya di ruangan ini ada tes kesehatan mata, dll deh. Ada gambar yang buat tes rabun mata soalnya di tembok.

Mungkin karena aku bawa bayi, jadinya aku gak diperiksa apa-apa. Dicek tensinya pun gak. Hehe.. Aku langsung diminta menyerahkan fotokopi KTP 1 lembar dan biaya administrasi kesehatan sebesar Rp22.500,-.

Dari ruang kesehatan, kami diarahkan untuk ke loket asuransi di bagian depan kantor pelayanan. Di loket asuransi ini akan diminta uang asuransi sebesar Rp30.000,-. Nanti petugasnya akan menyerahkan kartu asuransi berwarna biru yang harus kita simpan. Aku lupa di sini diminta fotokopi KTP atau SIM atau gak. Tapi seingetku sih gak diminta.

Setelah dapat kartu asuransi, aku berpindah ke loket pengambilan formulir perpanjangan SIM di sebelah loket asuransi. Di loket ini, aku diminta untuk menyerahkan fotokopi KTP dan juga SIM asli. Lagi-lagi aku lupa di sini diminta fotokopi SIM atau gak. Tapi kayaknya sih gak juga :")
Di loket ini juga akan dimintai uang administrasi sebesar Rp70.000,-

Oiya, sebisa mungkin bawa pulpen sendiri yaa. Biar gak ribet pinjem-pinjem pulpen untuk pengisian formulir. Klo gak bawa, di depan kantor pelayanan ada banyak orang yang jualan pulpen juga sih. Yah, siapa tau aja kan mau irit dengan membawa pulpen sendiri.

Formulir perpanjangan SIM bisa diisi di dalam kantor pelayanan. Disediakan meja dan contoh pengisiannya juga di sana. Setelah formulir selesai diisi, kami langsung menyerahkannya ke loket pendaftaran yang ada di dalam.

Tinggal nunggu panggilan untuk foto deh. Dan antriannya.. Masya Allah panjangnyaaa XD

Alhamdulillah namaku langsung dipanggil untuk foto terlebih dahulu. Mungkin ini salah satu layanan ekstra untuk ibu yang membawa bayi kali ya. Terima kasih banyak lho Bapak dan Ibu Polisi yang baik hati.

Tanpa menunggu lama, aku pun difoto oleh petugas. Tentunya sambil menggendong bayi karena Mas Suami menunggu di luar ruangan (ruangan fotonya sempit dan banyak orang yang mengantri soalnya. Jadi gak enak klo menuh-menuhin). Yup, sesi pemotretan pun selesai. Dan di fotonya pun keliatan tali gendongan bayi. Perjuangan ya, Nak XD

Gak lama namaku pun dipanggil untuk ambil kartu SIM yang baru. Masya Allah.. Secepat ini ya ternyata. Dan si bayi pun gak rewel jadinya :")

Udah, segitu aja ceritanya. Aku sangat mengapresiasi layanan kepolisian yang mendahulukan ibu yang membawa bayi. Soalnya beneran gak tega juga sih klo harus antri lama, banyak asap rokok juga di luar kantornya.

Jadi, kurang lebih yang harus dipersiapkan:
1. Kartu SIM asli + fotokopinya 3 lembar (buat jaga-jaga klo diminta)
2. KTP asli (buat jaga-jaga) + fotokopinya 3-5 lembar
3. Pulpen
4. Uang sebesar Rp122.500,- (bawa uang 150 aja buat jaga-jaga, sekalian buat bayar parkir)

Okay, semoga bermanfaat.

1 Mei 2017

Daftar BPJS untuk Bayi di Dalam Kandungan

Diposting oleh Zana di Senin, Mei 01, 2017 0 komentar
Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Buat ibu-ibu yang sedang hamil 7 atau 8 bulan, bisa nih mulai mendaftarkan calon bayinya ke BPJS. Biar nanti ketika lahiran, si bayi juga bisa mendapatkan pelayanan BPJS. Klo yang punya kartu BPJS cuma ibunya aja, nanti ketika lahiran, si bayi ini bakal ada tagihan layanan sendiri (red: gak gratis).

Berikut ini persyaratan yang harus dilengkapi ketika mendaftar:

1. Formulir penambahan anggota keluarga (untuk anak yang ortunya sudah punya kartu BPJS. Klo ortunya belum punya, sepertinya harus didaftarkan juga ibu dan bapaknya untuk ikut kepesertaan BPJS)

2. Fotokopi KTP orangtua + KTP asli (fotokopi yang diminta cuma 1 lembar, tapi buat jaga-jaga, siapin aja 2 atau 3 lembar lagi)

3. Fotokopi kartu BPJS orangtua + kartu BPJS asli (fotokopi yang diminta cuma 1 lembar, tapi buat jaga-jaga, siapin aja 2 atau 3 lembar lagi)

4. Fotokopi Kartu Keluarga (KK) + KK asli  (fotokopi yang diminta cuma 1 lembar, tapi buat jaga-jaga, siapin aja 2 atau 3 lembar lagi)

5. Fotokopi buku tabungan dari Bank Mandiri/BNI/BRI (bank mitra BPJS) dan buku tabungan asli (jika melakukan pendaftaran untuk kelas I) (fotokopi yang diminta cuma 1 lembar, tapi buat jaga-jaga, siapin aja 2 atau 3 lembar lagi)

6. Foto hasil USG + Surat Keterangan bahwa calon janin yang berada di dalam kandungan dalam keadaan sehat.
Pas kemarin aku daftar, kata petugasnya, foto hasil USG gak perlu, yang penting surat keterangan dari dokter/bidannya aja. Tapi buat jaga-jaga, dibawa aja lah ya hasil USG-nya. Daripada bolak-balik. Hehe..

Yang perlu ada di surat keterangan calon bayi tersebut:
- Nomor Surat
- Pernyataan usia janin di dalam kandungan dan menyatakan bahwa janin sehat
- Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Kayaknya sih yang penting 3 keterangan tadi. Yang lainnya biasanya dokter/bidannya udah paham.

Contoh surat keterangan yang kufoto di kantor BPJS Depok. Yang dilingkari cuma 3 poin.
Kalau semua persyaratan ini sudah ada, kamu bisa langsung datang ke kantor BPJS untuk mendaftar :D

Oiya, formulirnya bisa diambil dulu di kantor BPJS sebelum kamu mendaftar. Klo bingung gimana cara ngisinya, bisa langsung ditanya ke satpam atau petugas lain yang berwenang.

Cara pengisian formulir:
1. NIK diisi dengan NIK Ayah kandung
2. Nama diisi dengan "Bayi Nyonya Nama_Ibu_Kandung"
3. Tanggal lahir diisi dengan tanggal saat melakukan pendaftaran BPJS
4. Jenis kelamin diisi dengan jenis kelamin bayi sesuai hasil USG
5. Kelas BPJS harus sama dengan kelas BPJS ibu kandung bayi

Formulir beserta seluruh fotokopi persyaratan di klip jadi satu saat pendaftaran. Bawa pulpen sama klip sendiri ya biar gak ribet pinjem-pinjem ke orang lain :D

Pendaftaran untuk bayi di dalam kandungan hanya bisa dilakukan jika orangtua bayi adalah peserta BPJS mandiri, bukan dibayarkan oleh perusahaan. Klo BPJS orangtuanya dibayarkan oleh perusahaan, BPJS bayi baru bisa dibuat ketika bayi lahir. Untuk prosedur ini, aku belum tahu karena setelah daftar, baru dikasih sms pemberitahuan bahwa BPJS-ku sudah didaftarkan oleh perusahaan (udah bukan mandiri lagi) :")

Yang terhormat bapak/ibu ***** & Keluarga, untuk pendaftaran peserta BPJS KESEHATAN a/n CALON BY NY ***** tidak bisa kita proses dikarenakan untuk bapak dan ibu sekeluarga sudah tedaftar aktif di peserta pegawai swasta PT ***** sejak 01/05/2017 dengan nomor kartu ******, maka untuk pendaftaran anak ke 1 dapat dilakukan setelah bayi nya lahir dan akan aktif apabila orangtuanya aktif, untuk pendaftaranya dapat di bantu di kantor BPJS KESEHATAN setempat di RUKO SALADIN LANTAI 2 loket badan usaha dengan membawa surat keterangan lahir, fc kk, fc ktp, kartu BPJS. 

*UPDATED

Nah, karena kemarin ternyata aku sama suami sudah terdaftar di BPJS perusahaan, akhirnya setelah bayi lahir, suamiku harus ngurus dokumen lagi ke kantor BPJS buat bikin BPJS bayi dengan persyaratan seperti sms sebelumnya :"

Persyaratan yang dibawa ke kantor BPJS:
1. Surat Keterangan Lahir dari faskes tempat bayi lahir
2. Fotocopy Kartu Keluarga
3. Fotocopy KTP ibu dan ayah bayi
4. Fotocopy kartu BPJS ibu dan ayah bayi

Klo di Depok, nanti daftarntya di Ruko Saladin Square Lantai 2. Nanti di sana akan dikasih formulir yang harus diisi oleh orangtua bayi.

BPJS bayi harus sudah jadi sebelum orangtua harus membayar uang administrasi persalinan ya. Makanya harus buru-buru, sebelum kantornya tutup. Apalagi klo ibunya lahir lewat proses normal, kan disuruh pulang dari RS-nya cepet banget tuh. Hehe...

Kartu BPJS bayi langsung aktif dan jadinya cepat, saat itu juga, gak perlu nunggu 2 minggu. Jadi bisa dibawa untuk melakukan proses administrasi bayi di RS :D
 

searching for Andromeda Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review