10 Mar 2023

[Notulensi] Waktu Berlalu, Apa Kabar Pola Asuhku?

Diposting oleh Zana Zahra di Jumat, Maret 10, 2023 0 komentar


Narasumber: Mutiara Khadijah, S.Psi.

JENIS JENIS POLA ASUH PADA ANAK

Menurut APA (American Psychological Association, 2017) setidaknya ada 3 tipe pola asuh atau gaya pengasuhan:

1.    AUTHORITATIVE

Orang tua terlibat langsung dalam pengasuhan anak, berikap responsif, dan memberi dukungan penuh pada anak namun tetap menetapkan aturan dan batasan yang tegas bagi anak. Orang tua juga berupaya mengendalikan perilaku anak dengan menjelaskan aturan, berdiskusi, dan menggunakan logika, serta memberi kesempatan pada anak untuk menyampaikan pendapat walaupun pendapat itu  tidak selalu diterima.

2.    PERMISIVE

Orang tua bersikap hangat, tapi tidak menerapkan aturan atau batasan yang tegas terhadap anak. Anak tidak dimonitor dengan cermat ketika beraktivitas dan tidak mendapatkan bimbingan untuk berperilaku yang wajar sesuai tingkat kematangan usianya.

3.    UNINVOLVED

Ayah bunda/orang tua yang tidak responsif, TIDAK HADIR, menolak untuk terlibat dalam pengasuhan anak.

Sedangkan tipe pengasuhan menurut Diana Baumrind (1972) dalam Lerner & Hultch, 1983) adalah:

1.    Pengasuhan otoritatif (authoritative parenting): 

Pengawasan ekstra ketat, tapi juga bersikap responsif, menghargai dan menghormati pemikiran, perasaan serta mengikutsertakan anak dalam pengambilan keputusan. Anak usia prasekolah dengan orang tua otoritatif cenderung lebih percaya diri, mampu bergaul baik dengan teman sebaya. Pengasuhan otoritatif juga diasosiasikan dengan rasa harga diri yang tinggi, memiliki standar moral, kematangan psikososial, kemandirian, sukses dalam belajar, dan bertanggung jawab secara sosial.

2.    Pengasuhan otoriter (authoritarian parenting): 

Gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua. Orang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengemukakan pendapat. Orang tua otoriter juga cederung bersikap sewenang-wenang dan tidak demokratis dalam membuat keputusan, memaksakan peran peran atau pandangan kepada anak atas dasar kemampuan dan kekuasaan diri, serta kurang menghargai pemikiran dan perasaan mereka. Anak dari orang tua otoriter cenderung bersifat curiga kepada orang lain dan merasa tidak bahagia dengan dirinya sendiri, mereka canggung berhubungan dengan teman sebaya, canggung menyesuaikan diri pada awal masuk sekolah, memiliki prestasi belajar yang lebih rendah dibandingkan anak-anak lain.

3.    Pengasuhan permisif (permissive parenting)

a.    Permissive – indulgent (terlalu baik/ memanjakan): gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak, tetapi kurang menetapkan batasan atau kendali hidup anak. Anak diasosiasikan dengan kurangnya kemampuan pengendalian diri anak, karena orangtua yang permissive indulgent cenderung membiarkan anak-anak mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan, dan akibatnya anak-anak tidak pernah belajar mengendalikan perilaku mereka sendiri dan selalu mengharapkan agar semua kemauannya dituruti (MANJA)

b.  Permissive – indifferent (cuek), yaitu suatu gaya pengasuhan dimana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. 

Sumber: Kompasiana. Tipe Pengasuhan anak. 2014. Moh Wildan Mukholadun M

 Efek dari pengasuhan permissive indulgent ini:

1.    Anak kurang memiliki kontrol diri yang baik

2.    Kemampuan regulasi emosi yang rendah

3.    Keterampilan dalam menyelesaikan konflik tidak terlatih dengan baik

4.    Tingkat kemandirian relatif rendah.

Ciri-ciri dari pengasuhan tipe permissive indulgent ini:

1.    Lunak kepada anak

2.    Pasif dalam mendisiplinkan

3.    Menuruti keinginan anak atau memanjakan anak secara berlebihan, sehingga anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang permissive indulgent cenderung kurang percaya diri, pengendalian diri yang buruk dan rasa harga diri yang rendah.

3 Sep 2020

Pengalaman Menang Giveaway Shopee Live

Diposting oleh Zana di Kamis, September 03, 2020 17 komentar

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Setelah maju mundur mau nulis tentang giveaway ini di blog atau gak, akhirnya kuputuskan untuk nulis aja. Tujuannya agar orang-orang yang menang hadiah giveaway dari Shopee gak bingung cara klaim hadiahnya. Yang terpenting, biar si pemenang gak kena tipu pihak yang gak bertanggung jawab. Semoga bermanfaat dan bersih dari niat untuk pamer ya :)

Sebelumnya, aku mau buat pengakuan dulu nih. Aku termasuk emak-emak pengumpul recehan koin Shopee. Salah satu cara untuk dapat koin adalah dengan nonton Shopee Live. Lumayan, bisa dapat 150 koin. Wkwkwk..

Kali ini yang akan dibahas adalah tentang Shopee Live. Mengingat aku dapat hadiah giveaway dari event yang satu ini.

Hari itu seperti biasa, di tanggal 17 Agustus 2020, aku mantengin Shopee Live demi berburu koin. Sembari menunggu menit demi menit untuk bisa klaim 150 koin, aku ikutin hal-hal yang lagi dibahas sama host-nya. Host-nya waktu itu lagi bahas tentang tteokpokki merk tertentu yang sedang memperkenalkan varian rasa barunya. Buatku, tteokpokki memang is the best (baca dengan nada bicara Siwon di iklan mie Sedap XD )

Di sela-sela acara, sang host juga kasih pertanyaan yang berhadiah Shopee Pay 100ribuan kalau gak salah. Karena lagi momen 17an, kuisnya seputar sejarah kemerdekaan Indonesia. Iseng-iseng ikut jawab juga lewat kolom komentar sesuai dengan instruksi. Gak ada niatan untuk menang pada awalnya ((walau dalam hati sebenernya ngarep juga. Hahaha..)).  

Ternyataa.. yang ikutan jawab kuisnya buanyaaaak bener, guys.. Kolom komentar gak berhenti gerak. Sampe susah baca isi komentarnya klo gak discroll ke atas dulu. Antusiasme demi 6 digit Shopee Pay ternyata tinggi syekali. Makin gak ngarep menang juga jadinya.

Nah, di sela-sela pembacaan pertanyaan kuis, host-nya ngomong klo bakal ada giveaway emas 1 gram untuk penonton yang mengirimkan pantun dengan tema kemerdekaan yang terunik.

Kayaknya banyak orang-orang yang gak terlalu ngeh sama giveaway ini. Kolom komentar masih rame sama jawaban pertanyaan kuis Shopee Pay. 

Atas ilham dari Allah, hatiku tergerak untuk bikin pantun. Biar begajulan gini, aku kan pernah jadi guru Bahasa Indonesia kelas 4-6 SD. Pernah ngajar materi tentang pantun juga. Hoho..

Pantunnya langsung kupost di kolom komentar. Semenit.. Dua menit.. Lima menit.. Lah, ini sepi amat yang nulis pantun. Yang lain masih rame aja jawab pertanyaan kuis Shopee Pay.

Mulai lah, harapan untuk menang itu muncul. Wkwkwk..

Yang tadinya mau keluar dari Shopee Live setelah semua koin bisa diklaim, akhirnya masih aja kupantengin live-nya karena penasaran siapa pemenang kuis dan giveaway-nya.

15 menit, 20 menit berlalu.. Ini kapan pengumumannya ya? Jadi mikir, ini termasuk mubazir waktu gak sih mantengin beginian? :"|

Karena berat mikirin dosa mubazir waktu, akhirnya kututup juga itu Shopee Live.

Namun, entah kenapa, beberapa menit kemudian muncul dorongan yang begitu kuat untuk buka Shopee Live lagi. 

Kali ini sinyal dan paket dataku yang gak bersahabat. Berkali-kali gagal untuk munculin live-nya. Setelah 5 menit berusaha, alhamdulillaah bisa masuk juga. 

Dan.. Eng ing eng.. Host-nya udah say good bye ke penonton sembari megang papan pemenang giveaway.

Tunggu.. Tunggu.. Itu nama akun di papan kayak kenal. Itu akunku bukan sih? Aku menang giveaway??


Langsung ku-screenshot layar hp untuk memastikan lagi. Dan benar aja, gak lama setelah di-screenshot, live-nya selesai. Wkwkwk...

Langsung heboh manggil Mas Suami sambil nunjukin hasil screenshot, "Mas, ini akun Eka bukan sih yang ditulis di papan?"

"Iya deh kayaknya. Kenapa emang?"

"Eka menang giveaway emas nih berarti. Alhamdulillaah..."

"Hah? Serius?" kali ini giliran Mas Suami yang kaget.

"Iya, tapi karena gak sempet nonton pas pengumumannya, gak paham itu host ngomong apa aja. Gak tau dia ngejelasin cara klaim hadiahnya atau gak."

Akhirnya, aku coba tanya ke CS Shopee via chat. Dan hanya dijawab, "Kami belum bisa memastikan. Tunggu notifikasinya masuk ke aplikasi aja ya kak."

Nyari di internet juga gak ketemu artikel apapun terkait cara klaim hadiah giveaway dari Shopee. Mau nanya lewat sosial media juga gak berani. Selain takut kena tipu dari orang-orang yang gak bertanggung jawab, aku juga takut kalau ternyata yang menang bukan aku. Hahahaha...

Ya sudah, solusinya sabar aja. Tanggal 17 Agustus juga masih ada beberapa jam lagi. Mungkin memang notifnya masuknya lama.

Dua hari kemudian juga notifnya belum juga. Akhirnya aku memberanikan diri nanya lagi ke CS Shopee. Jawabannya juga masih sama. Tunggu saja.


Ya sudahlah.. Akhirnya kupasrah. Bukan aku kali pemenangnya. Namun kutetap sering refresh notifikasi aplikasi Shopee, berharap keajaiban terjadi.

Saat aku berada di titik terpasrah. Gak ada harapan apapun tentang giveaway ini, tiba-tiba muncullah notifikasi yang muncul di hp dari aplikasi Shopee.


Alhamdulillaah.. Akhirnya penantianku terjawab sudah. Notifikasinya baru muncul 10 hari sejak pengumuman pemenang giveaway itu.

Tips dari aku untuk teman-teman yang menang giveaway dari Shopee:

1. Jangan posting tentang kemenangan kamu di sosial media manapun karena informasi ini rentan disalahgunakan oleh orang-orang jahat untuk menipu kamu.

Dari komentar salah satu pemenang giveway di aplikasi Shopee, ada yang ditipu orang. Dia hampir kena tipu dari orang jahat yang menghubungi dia via telepon/sms yang mengatasnamakan pihak Shopee.

2. Kalau mau bertanya ke CS Shopee, pastikan bertanya lewat layanan chat CS via aplikasi Shopee yang lebih aman dan informasi hanya diketahui oleh kamu di si CS yang menjawab.

Jangan sekali-kali bertanya lewat kolom komentar apapun di sosial media Shopee yaa.. Sekali lagi, hal ini rentan sekali disalahgunakan oleh orang jahat.

3. Sabar.

Iya, sabar aja menunggu notifikasinya masuk ke kamu via aplikasi Shopee. Sejauh aku melakukan riset tentang giveway Shopee ini, ada beberapa event yang memang butuh waktu lama untuk bisa klaim. Ada yang hadiahnya baru bisa diklaim setelah 3 bulan lamanya. So, sabar aja yaaa :D

4. Segera klaim dan gunakan voucher giveaway yang sudah diberikan lewat notifikasi Shopee.

Notifikasi yang ada di aplikasi Shopee sepertinya memang satu-satunya jalur resmi bagi para pemenang giveaway untuk bisa klaim hadiahnya. Jadi, setelah notifikasinya masuk, segera gunakan dengan baik yaa.. Jangan lupa gunakan voucher giveaway-nya saat mau check out produk hadiah. Nanti keburu expired dan kamu gagal dapat hadiah :D

5. Jangan lupa untuk bersyukur kepada Allah dan bersedekah yaa :)

7 Jun 2020

Ta'aruf Series #5; Pertemuan Pertama

Diposting oleh Zana Zahra di Minggu, Juni 07, 2020 1 komentar


Sudah baca series sebelumya?


Bismillaahirrahmaanirahiim...

Mulai series #5 ini, akan banyak bercerita tentang pengalamanku ya. Semoga bisa diambil yang berfaedah. Kalau yang unfaedah mah jangan ditiru :")

Setelah pertukaran CV, langkah selanjutnya yang kami jalani adalah pertemuan pertama dengan didampingi oleh guru kami masing-masing. Sebut saja Mba Guru dan Abang Guru.

Sebuah ruangan kecil di Masjid Al-Ikhlas Jatipadang jadi saksi betapa deg-degan dan ‘bengong’-nya seorang aku ketika harus berhadapan dengan kakak itu dan Abang Gurunya. Seriusan. Itu pertemuan berasa banget krik-kriknya -____-”

Aku juga tumbenan banget gak kepo-kepo amat sama orang. Padahal biasanya, kalau sudah urusan kepo-mengkepo, selalu saja ada hal yang pengen diketahui. Apa karena sudah kenal, ya? Jadi bikin bingung sendiri mau nanya tentang apa.. (Eka sok kenal banget. Padahal ngobrol selain urusan organisasi aja gak pernah. Wkwk..)

FYI, kami beberapa kali terlibat dalam organisasi atau kepanitiaan yang sama. Kami sama-sama aktif di yayasan alumni SMA kami (salah satu kejadian menegangkannya bisa dibaca di sini. Haha.. ). Di kampus juga beberapa kali ikut syuro koordinasi antar fakultas karena beliau adalah ketua Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) di FMIPA UI dan saya koordinator akhwat LDF di Fasilkom UI.

Pertemuan itu dibuka dengan sebuah pengantar dan nasihat dari Abang Guru sekaligus memberikan klarifikasi mengenai kronologis kejadiannya.

Jadi, awalnya si kakak minta dicarikan pasangan sama Abang Guru dengan beberapa kriteria. Abang Guru akhirnya mencari ke beberapa Mba Guru. Dapet deh itu beberapa CV akhwat (kalau gak salah jumlahnya 3, termasuk aku). Dari hasil istikharah si kakak, katanya si kakak akhirnya milih aku (mulai tumbuh benih-benih geer nih. Hahaha..).

Kenapa harus diluruskan? Karena kenal. Sesederhana itu ya ternyata :’) 

Katanya belakangan ini sudah banyak terjadi fenomena ‘penembakan’ akhwat oleh seorang ikhwan. Si kakak katanya gak ‘nembak’ aku, insya Allah. Kayaknya Abang Guru dan si kakak benar-benar menekankan banget kalau ini bukan ‘penembakan’. Entah maksudnya apa. Biar gak jadi fitnah kali ya. Kan aku sama si kakak ada di satu departemen di yayasan alumni SMA. Si kakak takut dikira ngincer aku dari dulu kali ya (klarifikasinya sudah ada di postingan Ta'aruf Series #4 ).

Setelah Abang Guru selesai dengan pembukaannya, lalu beliau mempersilakan kami berdua untuk saling bertanya jika ada yang ingin ditanyakan.

Saat itu, aku lagi dalam kondisi ‘mong’, jadi memang banyak diamnya. Ditambah lagi, ada perasaan nervous bin grogi. Yaudah deh, aku makin diam di situ. Padahal sebelumnya sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang sayangnya gak dicatat. Ambyar deh itu pertanyaan gak ada yang kesebut saking groginya XD

Tapi ternyata gak cuma aku doang. Si kakaknya juga diem. Jadi lah itu krik-krik banget suasananya :)))

Mungkin karena gak enak atau gimana, akhirnya si kakak angkat bicara duluan. Kakaknya menceritakan ulang kronologisnya dari awal.

Ketika ditanya sama Abang Guru, "Ada yang mau ditanya gak ke Eka?" Si kakak hanya menjawab, "Saya ketika memutuskan untuk memilih, berarti tidak ada yang perlu ditanyakan lagi, Bang." #uhuk2 #jadikeselek #kemudiangeerlagihahahaha

Selesai kakaknya cerita, giliran aku yang disuruh ngomong. Bingung mau ngomong apa. Akhirnya cuma cerita tentang kondisi keluarga dan keluarga besar dari pihak Ibu dan Bapak. Udah segitu aja. Bingung.

Melihat situasi yang krik-krik dan semakin tidak terkendali ini, Abang Guru berinisiatif untuk mendeskripsikan sifat dan kondisi si kakak. Di situlah kegalauan kembali muncul. Ada beberapa poin penting yang rasa-rasanya perlu di-istikharah-kan kembali.

Pertemuan itu pun ditutup gak lama setelah adzan Zuhur selesai berkumandang. Abang Guru menarik kesimpulan dan memberi waktu satu pekan untuk istikharah lagi. Jika lanjut, maka kami akan bertemu lagi. Dilanjutkan dengan si kakak yang silaturahim ke rumahku, lalu aku silaturahim ke rumah kakaknya, kemudian baru deh orangtua si kakak dateng silaturahim ke rumah untuk membicarakan proses lamaran.

Gitu deh ceritanya..

Aku sarankan agar teman-teman yang sedang ta'aruf mempersiapkan dengan matang, ya, apa-apa saja yang mau ditanya. Ingat, harus dicatat. Biar gak bingung dan super krik-krik kayak aku XD

Misalnya:
1. Nanti boleh lanjut kerja atau gak setelah menikah?
2. Setelah menikah mau tinggal di mana?
3. Bagaimana hubungannya dengan Ibu dan saudara kandung perempuan? Karena ini bisa merefleksikan bagaimana seorang laki-laki dalam memperlakukan istrinya kelak.
4. Kalau marah, biasanya seperti apa?
5. Masih kah boleh berkegiatan di luar urusan pekerjaan (tentunya dalam hal kebaikan ya..)?
6. Apakah punya harapan untuk calon istrinya kelak?
7. Apa saja yang diharapkan oleh keluarga pihak laki-laki tentang calon istrinya?
8. Kebiasaan sehari-hari di rumah?
9. Bagaimana pergaulannya?
10. Bagaimana pengaturan keuangan pasca menikah?
11. Kalau istrinya belum jago masak gimana? #inimahaku XD

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan kehidupan pasca menikah.

Selamat menyusun pertanyaan-pertanyaannya yaa :D

3 Agu 2019

Aku, Baby Blues, dan Postpartum Depression

Diposting oleh Zana Zahra di Sabtu, Agustus 03, 2019 0 komentar


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Setiap orang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Aku menulis ini bukan karena aku sudah sembuh dari postpartum depression. Aku menulis untuk sarana berbagi dan juga sebagai salah satu ikhtiar dalam penyembuhan diri :)

Baby blues syndrome adalah perasaan yang sangat sedih di hari-hari setelah bayi lahir dan itu sangat normal. Bunda biasanya mengalami sindrom "baby blues" dalam 14 hari pertama setelah melahirkan, dan saat terburuk adalah 3 atau 4 hari sesudah kelahiran. (Sumber: https://www.cussonsbaby.co.id/)

Berbeda dengan kondisi baby blues yang terjadi selama 7-14 hari setelah melahirkan, postpartum depression (PPD) biasanya lebih parah dan berlangsung lebih lama. Karena itu, waspadalah apabila depresi terjadi lebih dari 14 hari atau berdampak signifikan pada sang ibu, bayi, beserta keluarga. (Sumber: https://www.alodokter.com/)

Sepertinya aku sudah masuk masuk ke kondisi PPD. Sudah lebih dari dua tahun. Sejak anak pertama usia dua bulan sampai sekarang anak kedua usianya sudah delapan bulan. Sesuatu banget kan? :")

Gejalanya kurang lebih sebagai berikut:
1. Suka nangis tiba-tiba
2. Emosi/kesal berlebihan
3. Merasa gagal menjadi ibu
4. Insomnia
5. Kepala sakit mulai dari dahi sampai kepala bagian belakang
6. Halusinasi (ini yang paling seram karena bisa memicu seluruh gejala, terutama yang poin 7 dan 8)
7. Berusaha menyakiti diri sendiri dengan meninju tembok karena kepala terasa penuh seperti mau pecah
8. Beberapa kali terbesit pikiran untuk menyakiti anak sendiri

Orang-orang di lingkaran terdekat yang seharusnya jadi supporting system ternyata adalah orang yang paling sering berkomentar ketika aku menjadi ibu baru. Komentar standar sih sepertinya bagi seluruh penduduk Indonesia. Tapi, bagiku yang hormonnya masih berantakan pasca melahirkan, masih penyesuaian dengan kondisi fisik yang harus sering terjaga, ditambah lagi dengan rasa sedih karena gak bisa ikut Ibu pulang ke kampung halaman (ini sedih banget lho, serius), komentar-komentar ini sangat jahat.

"ASI-nya keluar gak sih? Itu anaknya nangis terus."
"Ibunya ke mana sih nih? Anaknya nangis tapi mandinya lama banget."

Dua kalimat ini yang paling sering aku temui pertama kali. Seumur-umur, aku gak pernah "dibentak-bentak" dengan cara seperti ini sama keluarga. Pun dengan keluarga besar. Kenapa aku definisikan itu sebagai bentakan? Karena suaranya yang keras dan nadanya yang ketus bagiku. Ya, mungkin ini ada faktor perbedaan budaya keluarga juga. Dan ini, jujur, hingga sekarang pun aku belum terbiasa :")

Kalau mau membela diri, aku pasti bakal jelasin kalau aku mandinya lama karena aku sambil nyuci baju yang kecil-kecil pakai tangan. Aku gak mau merepotkan, sesederhana itu. Tapi, lagi-lagi karena aku gak terbiasa "menjawab" perkataan orang yang lebih tua, aku diam saja.

Diam, diam, dan diam. Lama-lama menumpuk di dalam diri. Mulai lah muncul sakit kepala di sekitar dahi. Segala rumitnya pikiran mengenai komentar-komentar negatif terus tertimbun hingga di satu titik kerumitan itu memicu sakit fisik.

Komentar tersebut terus berlanjut dan semakin tajam menurutku di saat anakku mulai MPASI. Memberi anak makanan instan, bukan berarti aku  sama sekali gak memperkenalkan makanan rumahan ke anakku. Aku akui memang aku belum terlalu bisa memasak. Tapi aku belajar kok (yang mana memang jarang dilaporkan ke mana-mana. Pun via sosmed. Buat apa juga? Hehe..).

Sejujurnya komentar ini yang paling berbekas sampai sekarang karena kurasa ini sudah menyinggung pihak keluargaku juga. Aku yang gak suka makan daging, dikira karena keluargaku gak pernah masak daging. Harga diriku terusik. Aku mulai marah. Tapi lagi-lagi aku pendam. Perasaan gagal menjadi ibu muncul semenjak ini.

Gak berselang lama, halusinasi muncul. Kalau lagi sendirian di rumah, aku selalu merasa mendengar dan melihat teriakan-teriakan dan komentar-komentar itu. Bahkan secara gak sadar, aku menjawab teriakan-teriakan itu. Sejak halusinasi ini muncul, aku mulai merasa ada yang harus dibenahi di sini. Ini sudah mulai gak baik.

Aku mulai komunikasikan masalah ini ke suami, berharap bisa mendapat solusi.

Saran pertama yang suami berikan adalah: Perbanyak frekuensi bertemu. Mungkin ini karena belum terbiasa.

Saran ini pun dilaksanakan. Frekuensi bertemu ditambah. Berjalan terus hingga dua tahun lebih. Tapi kurasa, depresiku malah bertambah parah. Bahkan untuk melihat wajah orang itu, aku sudah gak berani. Setakut itu.

Puncak depresi ini kira-kira mulai terlihat dua bulan belakangan. Beberapa hari aku gak bisa tidur. Pernah dua hari berturut-turut gak tidur malam karena aku menangis tanpa henti, menjerit, meninju-ninju tembok, hingga membanting barang. Kepala sakit dari bagian dahi sampai bagian belakang.

Pernah juga di suatu kondisi, aku ingin menyakiti anakku karena aku merasa "semenjak ada mereka aku jadi dimarahin terus". Sedih banget kan? Astaghfirullaah.. Sebegitu dahsyatnya efek depresi ini.

Ini berbahaya sekali ya ternyata. Gak hanya buat aku, tapi juga anak dan suamiku.

Setelah browsing dan banyak masukan, mungkin di sini ada beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk para ibu penderita PPD.

1. Meminta pertolongan dan perlindungan Allah
Bukan, bukan karena kita kurang iman, insya Allah. Bahkan seorang ibu yang setiap harinya membaca 5 juz Al-Qur'an pun bisa terkena depresi. Kita meminta pertolongan Allah untuk diberi kekuatan dan kemudahan dalam melalui ujian ini. Juga meminta perlindungan Allah dari hal-hal yang membahayakan diri sendiri, anak, dan keluarga kita.

2. Perbanyak komunikasi dengan suami
Terkadang tekanan itu terasa bertambah berat karena kita gak bisa bercerita atau sekedar curhat ke orang lain. Apabila penyebab/pemicu depresi kita adalah orang terdekat, mungkin kita juga akan sungkan untuk bercerita ke keluarga. Khawatir memicu masalah lain dan malah bertambah rumit. Suami seharusnya menjadi garda terdepan dalam menampung keluh kesah istri. Pelukan yang sedikit lebih erat, lebih lama, insya Allah bisa membantu menenangkan.

3. Konsultasi dengan psikolog
Menurut pendapat beberapa orang, jika stres sudah diikuti dengan sakit fisik (dalam hal ini aku kena sakit kepala akut) dan halusinasi, ini kondisinya sudah berat. Harus dikonsultasikan dengan ahlinya.
Aku belum sampai ke tahap ini. Tapi sudah minta tolong dicarikan psikolog yang amanah ke kawan dekat.

4. Maafkan dan terima kondisi dengan ikhlas
Berat memang. Minta ke Allah untuk dimudahkan ya :)
Bisa jadi beliau-beliau yang berkomentar ini memang terbiasa hidup di lingkungan penuh dengan komentar. Bisa jadi beliau punya inner child yang belum terselesaikan. Bisa jadi memang karakternya demikian, ke siapa saja, bukan hanya ke kita.
Some people are just controlling. “Anything outside the realm of their control (you, your family, their adult child, the rest of the world) is very threatening.

5. Jaga lisan
Kita memang gak bisa mengatur lisan orang lain, tapi kita bisa mengatur lisan kita sendiri. Jangan sampai apa yang kita bicarakan justru menyakiti hati orang lain. Semoga kita terhindar dari lisan yang zhalim. Iya, zhalim. Karena efek lisan yang menyakitkan itu berbahaya. Ingat gejala depresi aku di poin 7 dan 8. Be empathy, people! :)

6. Allah berikan ujian bersama dengan kemudahan
Iya, kemudahan itu Allah berikan bersamaan dengan ujiannya. Dan kemudahan yang aku dapat dari ujian ini adalah suami yang super sabar, mau dengerin curhatan istrinya yang gak berkesudahan ini. Beliau pasti lelah, udah capek kerja, tapi masih harus berusaha mencari solusi dari masalah istrinya yang pastinya bagai memakan buah simalakama. Jazakallah khairan, Mas. Semoga Allah senantiasa merahmatimu ya. Aamiin :*

7. Carilah kegiatan lain untuk melepaskan energi negatifmu
Sulit memang. Apalagi bagi ibu dengan dua bayi. Mau buka laptop buat nulis ini aja susahnya minta ampun XD
Mungkin kalau aku, pelariannya bisa dengan aktif kembali menulis blog sambil sesekali edit-edit foto gak jelas. Yang penting hati senang :D

8. Jalan-jalan!
Ajak suami, anak-anak, dan keluargamu untuk mengisi waktu berkualitas di suasana yang berbeda. Kalau bisa, ajak mereka yang memang senang jalan-jalan ya. Kalau gak, jalan-jalannya justru bisa memancing kembali depresimu karena kamu gak bisa enjoy, malah menderita :)

9. Posting saja hasil masakanmu di sosmed!
Mungkin ada beberapa orang yang butuh bukti nyata kalau kamu bisa memasak, guys :)))
Walau rada gak penting buat orang yang baca, tapi semoga bisa meningkatkan kepercayaan dirimu, ya! *Ini ngomong sama diri sendiri*
Mohon maaf, dear teman-teman, kalau statusku kadang-kadang isinya foto masakan. Percayalah, ini bukan untuk pamer ke kalian kok :v

10. Jaga jarak pun tak apa
Jika memang ikhtiar dengan meningkatkan frekuensi bertemu dengan orang-orang yang negatif itu justru makin memperparah gejala depresimu, tak apa membuat jarak sejenak. Tenangkan pikiran agar halusinasi-halusinasi itu tak muncul dan berdampak negatif untukmu, anak-anakmu, dan suamimu. Itu resiko mereka karena sudah berbuat zhalim  gak baik . Semoga Allah ampuni kesalahan kita dan memudahkan kita untuk menjaga silaturahim ya..

Setiap orang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Tak perlu mencemooh mereka yang menurutmu masalahnya sepele. Bagi mereka, itu adalah ujian besar. Gak perlu lah menghakimi mereka dengan berbagai pernyataan yang justru membuat mereka semakin sedih. Kalau mau berkomentar, cukup di dalam hati ya. Atau bisa juga sih diomongin di belakang mereka. Yang penting jangan sampai kalimat itu terdengar oleh mereka ya. Dengan catatan: Dosa ghibah ditanggung sendiri. Hehe..

Doakan aku biar segera sembuh ya, teman-teman. Semoga Allah mengampuni dan menguatkan kita yang sedang berjuang ini ya :)



26 Okt 2018

Ta'aruf Series #4; Pertukaran CV

Diposting oleh Zana Zahra di Jumat, Oktober 26, 2018 0 komentar


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Insya Allah udah cukup pembahasan mengenai persiapan di postingan Ta'aruf Series #1 - #3 yaa. Kali ini aku akan bercerita tentang kisah ta'arufku. Semoga bisa menginspirasi (sok-sok'an menginspirasi banget ya? Hahaha...)

Secara garis besar, proses ta'aruf itu terdiri dari tahapan-tahapan berikut:
1. Pertukaran CV (laki-laki baca CV perempuan dulu, klo lanjut, baru si perempuan baca CV laki-laki)
2. Pertemuan pertama bersama guru yang menjadi penyambung
3. Laki-laki datang menemui orangtua perempuan
4. Perempuan datang menemui orangtua laki-laki
5. Proses lamaran
6. Proses persiapan pernikahan
7. Pernikahan

Tahapannya bisa berbeda, tergantung situasi dan kondisi. Aku pun skip langkah yang nomor 4. Dari nomor 3 langsung ke nomor 5.

Okay, kita langsung bercerita mengenai proses pertukaran CV ala Eka dan Mas Suami.

Jadi, sekitar 2 pekan sebelum Ramadhan di tahun 2015 (maapin lupa tanggal dan bulannya), Mba Guru (sebut saja demikian ya. Hehe..) tiba-tiba ngirim sms yang isinya kayak gini:

"Sukunya apa? Usianya sekarang berapa?"

Shock dong ya dapet pertanyaan macam ini :") Walaupun shock tapi tetep bales sms sambil deg-degan. Haha.. Umurku 24 tahun ketika itu. Gak lama kemudian, Mba Guru langsung bales sms lagi minta aku kirim CV ke email beliau. Makin deg-degan dong yes :D

Satu pekan.. Dua pekan lewat.. Gak ada kabar apapun dari si Mba. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk ngomong ke beliau, "Mba, klo prosesnya gak jadi, tolong dikabari ya, Mba. Jangan sampai gak dikabari." Terus udah, gak ada balasan apa-apa. Haha..

Terkesan ngebet atau terburu-buru ya? Tapi ini penting lho.. Sebagai perempuan, kita harus tegas. Biar bisa move on gitu. Klo emang prosesnya gak lanjut ya udah. Kan bisa nyari yang lain :p
Terpikir juga untuk minta bantuan sama temen untuk nyariin jodoh, dan kebetulan waktu itu juga ada yang 'nanyain' (ceilah nanyain :v ).

Lama-lama juga pasrah aja. "Gak jadi ini mah," begitu kira-kira setelah Ramadhan, bahkan Lebaran pun udah lewat 2 pekan.

Hingga suatu hari, aku minta izin gak hadir pertemuan pekanan ke Mba Guru karena sakit. Eh, gak ada angin gak ada hujan, Mba malah balas sms dengan pesan, "Katanya si ikhwan mau lanjut. Tinggal nunggu dia kirim CV aja."

#eeeaaa Langsung deg-degan tingkat dewa XD

Kira-kira siapa ya orangnya? Kenal apa gak ya? Terus klo aku serem sama orangnya (bisa baca definisi serem ala Eka di postingan yang ini) cara nolaknya gimana? Kasih alasan apa? *mikirnya kejauhan woy. Wkwk...*

Ada hikmahnya juga sih aku sakit waktu itu. Jadi, pikiranku gak galau-galau amat. Teralihkan sepenuhnya sama pengurusan dokumen persiapan operasi usus buntu. Duh, ngebayangin perut bakal dibelek-belek aja udah bikin gak bisa tidur, boro-boro mikirin siapa nama ikhwannya.

Dan tiba-tiba... Ini tiba-tiba mulu yak XD Tiba-tiba Mba nge-WA aku yang isinya, "CV-nya mau dikirim sebelum atau setelah operasi?" Beuh, H-2 operasi banget nih. Haha...

Aku jawab, "Terserah Mba aja." Daaan.. 30 menit kemudian.. Jeng.. Jeng.. Jeng.. Notif email di HP bunyi.

Setelah email-nya dibuka, langsung nge-scroll pelan-pelan.

*Sambil nge-scroll ke bawah*

Oh, Mba-nya gak nyebut nama ikhwannya.

*Lanjut scroll lagi*

Lah, kok di history emailnya ada nama yang kayaknya kenal nih. Udah, habis itu bengong ngeliatin history email sampe sekitar 5 menit. Masa' sih kakak yang itu?

*Scroll lagi ke bawah sambil baca bismillah*

Di bawah history email, muncullah nama email yang emang beneran gak asing. Tapi.. Ah, masa' sih? Cuma mirip doang kali nama emailnya.

*Scroll lagi ke bawah*

Lah, iya bener si kakak! Seriusan nih? Kakak yang itu??

*Buru-buru donlot CV-nya. Nama file-nya gak nyantumin nama*

*Harap-harap cemas pas loading buat buka file, macam mau pengumuman hasil PPKB UI aja. Wkwk..*

*File-nya kebuka*

"Ibuuu! Ternyata orangnya kakak yang itu!!" Aku langsung teriak dari kamar atas.

Jadi, belum lama ini ada sebuah tragedi antara aku dan si Kakak itu. Di suatu acara dauroh yang aku dan kakak itu sama-sama jadi panitia, laptopku dipakai untuk keperluan acara. Nah, pas cek sound, si Kakak nge-buka Winamp dong. Dan, tau gak apa itu isi list lagunya? Lagu EXO semua! Hahahahakugakngertilagi XD

Tiga lagu pertama yang diputer sih alhamdulillah lagu EXO yang kalem dan nge-jazzy macam Thunder, December, 2014, sama satu lagi aku lupa. Klo kalian tau lagu EXO yang judulnya MAMA, kalian tau kan itu genre musiknya kayak apa? Nah, kemudian si Kakak nge-klik lagu itu. Mungkin dikiranya lagunya bakal mellow (secara judulnya MAMA gitu lho). Daaann... Yah, selanjutnya speakernya langsung dimatiin. Hahahahaha...

Duh, klo inget kejadian ini selalu bikin ngakak sendiri sih XD

Iya, dan peristiwa ini lagi nge-hits di rumah. Jadi, orang-orang serumah tau siapa nama si Kakak ini karena kejadian itu. *Aku tipe yang suka cerita tentang semua kegiatan sama orang-orang serumah soalnya*

Yah, begitulah, Saudara-saudara drama pertukaran CV ala Eka dan Mas Suami. Setelah operasi, aku langsung nanya-nanya ke beberapa kawan dekat si Kakak ini tentang karakter keseharian beliau.

Si Kakak juga gak ada acara jenguk-jengukan. Beliau aja baru tau klo aku habis operasi usus buntu pas udah nikah. Wkwk...

Seminggu pasca operasi, barulah aku kirim kabar ke Mba klo hasil istikharahku adalah "Lanjut". Dan seperti biasa, sms-nya gak dibales lagi. Tau-tau beberapa hari kemudian, si Mba baru ngabarin lagi klo 3 minggu lagi akan ada pertemuan 8 mata antara aku, si Kakak, dan guru kami masing-masing untuk eksplorasi lebih lanjut.

Hasil Wawancara Mas Suami Setelah Nikah

Q: Kok hasil istikharah setelah liat CV Eka lama sih?
A: Orang CV-nya juga baru dikasih ba'da Lebaran. Biar gak ganggu ibadah Ramadhan katanya.

Q: Terus, yang dilihat CV Eka doang?
A: Gak dong. Haha.. Ada beberapa CV, tapi nama dan fotonya dihapus sama Bang Guru (panggil saja begitu :D )
Q: Gak ada namanya? Terus yang diliat apaan?
A: Murni data diri yang lain. Biar lebih subjektif gitu kata Bang Guru.

Q: Udah ngincer Eka dari jaman SMA yaa? *istri kepedean*
A: Ih, kerajinan amat ngincer-ngincer :v

Kira-kira begitu hasil wawancaranya. Pertanyaan yang terakhir super gak penting. Ditanyakan karena penasaran aja. Wkwkwk...

Update
Mengenai Istikharah Pertama

Berhubung aku tipe anak yang sangat terus terang sama keluarga (apa aja cerita ke keluarga), dari awal proses sebelum aku ngirim CV pun aku udah minta izin ke Ibu. Begitu CV si ikhwannya diterima, semua keluargaku langsung baca.

Untuk proses istikharah, aku tak sendirian. Aku ngajak Ibu sama adekku yang laki-laki buat istikharah juga :D

Kenapa?
1. Karena peristiwa menikah bukan hanya tentang bersatunya dua insan, tapi juga dua keluarga #tsaah
2. Karena do'a Ibu itu mujarab. Insya Allah do'a seorang Ibu gak akan main-main untuk kebaikan anaknya. Dan bisa jadi, ridha Allah turun melalui keridhaan Ibu :)
3. Karena Bapak udah meninggal dunia, otomatis adik laki-laki jadi wali (penanggung jawab) keluarga. Nah, biar sekalian doi belajar mengambil keputusan besar. Doi harus memilih yang terbaik untuk mencari pengganti wali setelah nikah (baca: suami), kan?

Apakah hasil istikharah selalu dikaitkan dengan mimpi? Kayaknya gak juga. Aku ini orang yang suka lupa semalam mimpi apa. Jadi, aku berdo'anya semoga Allah hilangkan rasa "takut nikah" jika ini memang orang yang terbaik. Dan, jika ini bukan yang terbaik, semoga prosesnya emang terputus aja di awal. Maklum, aku tipe yang susah move on klo udah terlanjur ada keterikatan hati #eeaaaa

Alhamdulillaah, selama waktu satu minggu itu perasaanku biasa-biasa aja. Gak ada rasa takut nikah kayak yang sebelum-sebelumnya. Ibu sama adek juga katanya gak ada masalah sama si ikhwannya berdasarkan hasil istikharah. Jadi kesimpulannya, "Mari kita lanjut ke step ta'aruf berikutnya, insya Allah.." :)

27 Agu 2018

Ta'aruf Series #3; Edukasi Diri dan Keluarga

Diposting oleh Zana Zahra di Senin, Agustus 27, 2018 0 komentar


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Kali ini aku akan membahas hal-hal yang perlu dipersiapkan terkait diri dan keluarga untuk kalian yang mau memilih ta'aruf sebagai bagian dari ikhtiar menggenapkan setengah agama #eeaa

1. Pelajari apa itu ta'aruf beserta dengan mekanismenya yang syar'i.
Biar gak perlu bingung, "Kok ta'aruf itu gak boleh ketemu berduaan doang sih?" "Kok ta'aruf gini sih? Kan aku mau nonton bareng ke bioskop sekalian ngobrol untuk kenalan." dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mempertanyakan "batasan-batasan" dalam proses ta'aruf.

Ta'aruf itu kan salah satu metode yang kita harapkan keberkahan serta kebaikan dalam memulai proses panjang ibadah dunia-akhirat (baca: menikah), jadi tentu saja sebisa mungkin kita melakukan prosesnya dalam bingkai syari'at Islam yang baik dan benar ya ^^

Klo aku dulu buat patokan awalnya nonton film Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Haha.. Selebihnya nanya-nanya sama senior yang sudah pengalaman dalam proses ini.

2. Kondisikan keluarga dan edukasi mereka tentang ta'aruf.
Setelah diri sendiri paham akan mekanisme ta'aruf, langkah selanjutnya adalah menjelaskan kepada keluarga tentang cara yang kita mau dalam menjemput jodoh. Jelaskan kalau kita gak mau pacaran dan dalam Islam sudah ada panduan pengenalan calon pasangan sebelum menikah, yaitu dengan proses ta'aruf.

Hal ini penting, biar keluarga gak kaget kalau sehari sebelumnya kita masih ngaku "jomblo", eh sehari kemudian udah punya calon suami XD

Biar keluarga juga tahu klo kita yang gak punya pacar ini bukan karena punya penyakit penyimpangan seksual (lesbi/homo), tapi karena kita memang punya prinsip "no pacaran sebelum nikah." Ini kisah nyata yang terjadi padaku. Hahahahasedihakutuhdibilanglesbi... :")

Cara visualisasi yang mungkin bisa digunakan adalah dengan mengajak keluarga nonton film yang ada adegan ta'arufnya macam Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih #teteup.

3. Persiapkan diri dengan ilmu mengenai pernikahan, berumah tangga, dan pendidikan anak.
Sekarang kan udah banyak ya media pembelajaran mengenai hal ini. Video ceramah di Youtube juga udah banyak. Ustadz yang aku rekomendasikan untuk kamu dengarkan ceramahnya ada Ust. Salim A. Fillah (lebih banyak bahas tentang ta'aruf dan kehidupan awal pernikahan), Ust. Cahyadi Takariawan (membahas kehidupan berumah tangga dan parenting), dan Ust. Bendri (bahasan utama beliau biasanya tentang parenting, tapi sering juga membahas masalah rumah tangga).

Klo aku dulu lebih banyak baca buku karena di rumah belum pasang wifi. Sayang kuota :p

Ini list buku yang aku jadiin bahan persiapan:
1) Fiqh Wanita

2) Sakinah Bersamamu
3) Catatan Harian Seorang Istri
Pastikan baca buku Sakinah Bersamamu dulu yaa sebelum baca buku ini. Daripada nanti kalian kena sindrom takut nikah kayak aku dulu XD
4) Agar Bidadari Cemburu Padamu
5) Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

6) Jalan Cinta Para Pejuang

7) Kado Terindah untuk Istriku
Ini bacaannya Mas Suami sih. Aku juga baca buku serupa, tapi lupa judulnya. Maklum, boleh pinjem. Hehe...

8) Buku Persiapan Kehamilan
Awalnya agak mengernyitkan dahi pas dapet rekomendasi buku ini dari teman. Tapi, ternyata bermanfaat juga. Dan memang persiapan kehamilan itu sebaiknya memang dilakukan dari sebelum menikah :)

Itu tadi buku-buku yang kubaca untuk persiapan menikah. Kebanyakan emang yang buku populer yang penjelasannya mengalir bak novel gitu (Asma Nadia sama Salim A. Fillah, gitu lho). Aku lebih suka buku dengan tipe penulisan kayak gitu soalnya. Hehe..

Nah, setelah menikah, aku juga merekomendasikan beberapa buku berikut. Aku telat bacanya. Tau gitu ini buku kubaca juga sebelum nikah :")

9) Psikologi Suami Istri

10) Prophetic Parenting


11) Bilik-Bilik Cinta Muhammad

12) Salihah Mom's Diary
Buku ini belum lama terbit sih. Klo udah terbit dari jaman belum nikah, kayanya bakal langsung dibaca juga. Bagus buat bahan study kasus :")

Buku-buku ini doang yang aku inget. Nanti klo inget lagi, aku update di postingan ini ya list bukunya, insya Allah.

Semoga bermanfaat. Selamat mempersiapkan diri ya. Semoga Allah memberkahi. Aamiin :)

10 Jan 2018

Apresiasi dan Depresi; Sebuah Curhat Colongan dari Ibu Baru

Diposting oleh Zana di Rabu, Januari 10, 2018 2 komentar
Sumber gambar: http://eggzack.s3.amazonaws.com/cg1-x62alo5s3h-DPc4A3FvCtnMNrTgMjmA8oc.jpg

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Bulan Desember 2017 adalah bulan hebohnya aku dengan kabar meninggalnya Jonghyun SHINee akibat bunuh diri karena depresi. Heboh karena aku udah ngikutin grup ini dari tahun 2009. Heboh karena beberapa hari sebelumnya aku sempet baca berita konser tunggalnya di Seoul.

Gak nyangka Jjong bisa mengambil jalan pintas ini. Di depan kamera, Jjong ini termasuk member yang heboh lho. Suka bercanda, bikin member yang lain ketawa-tawa, ramah sama junior-juniornya, pun Jjong ini terlihat punya banyak banget teman. Tipe supel gitu sepertinya.

Tapi kenapa bisa sampai depresi? Kenapa?

Setelah ngulik-ngulik berita, ternyata Jjong ini sepertinya tipe perfeksionis. Dia selalu merasa gak puas sama hasil karyanya sendiri. Padahal lagu-lagu dan tulisan Jjong ini bagus. Multi talented lah pokoknya. Dan yang bikin menyentuh adalah pesan terakhirnya untuk sang kakak,

"It's been hard", "Let me go. Tell me I've worked hard. This is my farewell."

Iya, dia butuh apresiasi bahkan hingga saat terakhirnya.

Menurutku, kebutuhan akan apresiasi adalah suatu fitrah. Manusiawi banget.

Apresiasi bisa membuat kita semakin terpacu untuk bisa lebih baik lagi. Pun apresiasi bisa meringankan sedikit beban di kala lelah.

Buat ibu baru kayak aku ini, terasa banget lho betapa apresiasi itu sangat membantu. Contohnya ketika aku baru selesai proses persalinan. Di saat sakit karena bekas jahitan dan capek fisik, bahagia banget rasanya ketika membaca pesan-pesan di grup whatsapp dari keluarga besar Ibu.

"Wah, Mba Eka pinter yaa ngedennya.."
"Selamat ya Mba Eka, udah jadi ibu nih sekarang."
"Cucu Mbah pinter banget. Sekarang udah happy lagi kan?"

Biasanya kan yang dapet ucapan dan doa itu bayinya doang. Tapi alhamdulillah, Mbah Uti, Om, Bulik gak pernah lupa ngasih pujian dan doa buat ibunya juga. Sesenang itu rasanya. I love you full lah Kusumajayas' :*

Konon kabarnya, ibu yang baru saja melahirkan itu rentan mengalami depresi. Aku pun mengalami baby blues, mungkin sampai saat ini pun masih suka nge-blues klo ada faktor pemancingnya. Haha..

Kelelahan begadang menyusui bayi, cucian baju berember-ember setiap hari (fyi, aku kalau nyuci baju anakku, baju dalam, dan kaos kaki itu harus dicuci pakai tangan, bukan mesin cuci biar bersih. Mungkin ini sisi perfeksionisku. Haha..), bolak-balik ganti popok, harus nunda-nunda makan klo bayinya belum mau ditinggal (fyi lagi, aku ini klo telat makan, maag atau migrainnya bisa langsung kumat), itu gak terlalu berat kalau harus dibandingkan dengan harus dengerin komentar orang. Apalagi klo orang yang komentar itu tipenya diulang-ulang terus. Belum lagi klo dapet omelan, dan diomelinnya di depan orang banyak. Ini mah udah sukses bakal bikin nangis bombay.

"Itu air susunya keluar gak sih? Apa anaknya bakal kenyang?"
"Gak sabaran banget sih."
Dan sebagainya, dan sebagainya, yang intinya nyalahin.

Pokoknya serasa bayi itu gak boleh nangis sedikit pun. Nangis dikit, berarti ibunya gak becus. Gitu.

Namanya juga ibu baru, masih belajar. Dan yang namanya ibu itu harus bahagia biar asi-nya banyak. Klo dikomentarin gini, terus ibunya jadi sedih, terus asi-nya jadi gak maksimal, siapa yang harus disalahin? Ibunya lagi? *Maap jadi rada emosi -.-v)

Klo udah nge-blues gini, biasanya Mas Suami harus sabar ngelus-ngelus punggung istrinya yang lagi mewek.

Anyway, di sini aku juga mau menyuarakan hati seorang ibu baru #tsaah.

Ibu itu juga harus diperhatikan lho, bukan cuma anaknya doang. Apalagi ibu baru yang harus beradaptasi dengan dunia baru di mana segalanya berubah. Dunia di mana perhatian semua orang sudah tertuju untuk si bayi. Dunia di mana mereka harus merelakan jam istirahatnya demi sang buah hati. Tentu apresiasi bisa sangat menghibur mereka. Klo gak bisa mengapresiasi, minimal gak usah lah ya kasih komentar yang bikin mereka sedih.

Ibu gak boleh baper? Memang baiknya begitu. Tapi baper pun terkadang muncul bukan karena keinginannya sendiri. Ada banyak faktor. Lelah dan perubahan hormon misalnya. Jadi, tolong dibantu ya Pak Bapak dan Bu Ibu :D Jangan sampai blues-nya mereka ini berubah jadi Postpartum Depression. Tentunya ini bisa membahayakan Ibu dan bayinya.

Klo mau ngasih masukan, tolong banget, gunakan bahasa yang bukan men-judge. Nadanya gak usah tinggi-tinggi. Atau bisa juga disampaikan ke suami atau Ibu biar nanti bisa lebih "disaring" lagi masukannya. Menyesuaikan dengan kondisi si ibu baru ini. Karena biasanya suami kan yang paling paham kondisi istri. Pun Ibu-nya si ibu baru (?) ini juga paham dengan kondisi anaknya (di samping beliau juga pernah merasakan hal yang sama sebelumnya).

Dan, ngomelin si ibu baru ini di depan umum (include dalam lingkup keluarga) is A BIG NO NO NO. Paham kan alasannya? Klo belum paham, bisa lah ditanyakan langsung ke aku :")

Dan buat ibu-ibu nge-blues kayak aku ini, yuk, kita saling mengingatkan.

Yuk, kita perbanyak tilawah.
Yuk, kita perbanyak berdo'a langsung ke Allah. Meminta untuk dikuatkan dalam menjaga dan mendidik anak-anak kita.
Yuk, kita saling mengingatkan bahwa Allah selalu ada untuk kita, dan gak pernah membuat hamba-Nya bersedih :")

Allah selalu memberikan kemudahan di setiap kesulitan.

Semoga Allah memberi jalan kepada kita untuk bisa bergembira dengan kemudahan-kemudahan yang sudah Ia berikan. Aamiin :")

Untuk para ibu, THANK YOU FOR BEING AWESOME! Barakallaahulakum :*

30 Nov 2017

Ta'aruf Series #2; Sudah Siap Menikah atau Belum?

Diposting oleh Zana di Kamis, November 30, 2017 0 komentar

Bismillaahirrahmaanirrahim...

Sudah siap nikah atau belum?

Pertanyaan ini jadi pertanyaan sakti yang hati suka jadi dag-dig-dug sendiri buat jawab. Antara ke-geer-an, "Wah, kayaknya ada yang mau nyariin jodoh nih," sama ketakutan kalau seandainya yang nanya beneran mau nyariin jodoh (lah, terus maumu apa? Wkwk.. )

Bukan apa-apa. Klo beneran dicariin, terus dapet orangnya, terus kita ngerasa gak cocok kan jadi suka bingung gimana nolaknya. Iya, kan? Udah, iya-in aja dulu :p

Aku pun dulu suka bingung gimana nentuin kesiapan menikah. Pernah juga nanya ke seorang guru senior di tempatku dulu mengajar. Lalu jawaban beliau, "Klo sudah ada orang yang datang ke Ibu, berarti Bu Eka sudah siap." Momen bertanyanya pun tepat sekali dengan tawaran seseorang yang mau mengenalkanku dengan seseorang (?). Tapi, aku gak cocok sama orangnya. Aku masih takut nikah. Aku belum siap.

Dari situ, aku bisa mengambil kesimpulan sementara bahwa kecocokan dan ketidaktakutan (?) pun bisa menjadi salah satu standar kesiapan.

Aku lalu bertanya kepada guru senior lainnya, dan jawaban beliau seperti ini:

"Nikah itu bukan masalah siap atau gak siap, Bu Eka. Nikah itu ya harus di-siap-siap-in. Siapnya harus diusahakan. Dengan banyak baca buku misalnya. Atau hal lainnya."

Wah ini, salah satu nasihat yang lumayan bikin jleb. Hehe..

Setelah dipikir-pikir lagi, aku masih takut nikah. Iya, aku jadi takut nikah karena sering banget denger masalah-masalah rumah tangga. Mulai dari masalah ekonomi, KDRT, sampe masalah yang gak pernah terpikirkan sebelumnya, si suami ternyata penyuka sesama jenis! Na'udzubillaahimindzalik T.T

Masa-masa pengen nikah di tengah berbagai permasalahan yang melanda pun ada. Saat lelah dengan tugas-tugas kuliah misalnya. Hihi..

Tapi, semangat nikah itu langsung buyar tatkala buku Catatan Harian Seorang Istri selesai dibaca. Haha.. Aku salah baca buku, harusnya baca buku Sakinah Bersamamu dulu, baru Catatan Harian Seorang Istri. Biar baca yang senang-senang dulu, baru yang susah-susah.

Yasudahlah.. Makin takut nikah deh itu. Mari kita nikmati masa-masa single semaksimal mungkin :")

Sebenernya jadi single menyenangkan kok. Bebas jalan-jalan, bebas leyeh-leyeh, bebas jajan-jajan. Tapi kan gak bisa begini terus ya.. Umur udah masuk 24 tahun masa' masih takut nikah. Terus nanti mau nikah umur berapa?

Pelan-pelan mulai baca buku yang isinya tentang hal yang menyenangkan ketika menikah. Hehe.. Baca-baca tulisannya Salim A. Fillah, buku Fiqh Wanita, dan dengerin ceramah tentang ta'aruf dan persiapan menikah.

Emangnya calonnya udah ada? Waktu itu sih masih belum ada XD

Yah, siapa tau kan, Allah membukakan jalan bertemu dengan Andromeda di saat kita juga maksimal mempersiapkan diri dengan ilmu pernikahan dan udah gak takut nikah lagi :)

12 Nov 2017

Duka Sedalam Cinta; KMGP 2-nya Mana?

Diposting oleh Zana di Minggu, November 12, 2017 0 komentar

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Nah, ini dia nih yang ditunggu-tunggu. Akhirnya lanjutan film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP 1) tayang juga!

Lama rasanya tak terdengar kabar tayang KMGP 2. Sampai-sampai aku mikir, “Jangan-jangan ini lanjutan filmnya gak ada karena Gita-nya udah berjilbab sekarang.” Hehe.. Anyway, semoga semakin keren ya Mba Aquino Umar :3

Nah, suatu ketika aku iseng-iseng nih scrolling timeline Instagram Mba Helvy. Waktu itu, di timeline Mba Helvy lagi in tentang film 212. Lah, KMGP 2-nya mana?

Scroll lagi, scroll terus. Sambil sesekali baca caption di foto yang menarik. Eh, kok ada film baru lagi? Judulnya “Duka Sedalam Cinta”. Lah, KMGP 2-nya mana? (Terus aja ini pertanyaannya nongol di sini :p )

Jadi makin patah semangat nunggu KMGP 2

Mungkin ini yang namanya “bisikan hati”. Hati kok rasanya makin penasaran. Masa’ sih KMGP 2 gak jadi tayang? Akhirnya bener-bener dikepoin deh instagramnya Mba Helvy. Dibacain caption-nya satu-satu. Daaannn… Duka Sedalam Cinta (DSC) itu ternyata judul untuk film KMGP 2, Saudara-saudara. Haha… *jitak diri sendiri*

Bener kata admin @dukasedalamcinta. Kebaikan tidak boleh ditunda. Aku dan suami menonton film ini di XXI Plaza Depok tanggal 31 Oktober 2017 dan setelah aku lihat di akun @dukasedalamcinta, film ini sudah turun layar di tanggal 2 atau 3 November 2017 (aku lupa tanggal pastinya).

Film ini dibuka dengan memperlihatkan logo KMGP picture. Aku dan suami sontak langsung mengucapkan “Masya Allah…” Bahkan film ini pun diproduksi secara mandiri oleh tim KMGP. Salut!

Menonton film DSC membuat aku bersyukur bahwa masih ada film dengan muatan super positif buatan anak negeri. Mba Helvy dan tim berhasil menciptakan karya keren ini tanpa ada sedikit pun kata-kata kotor dan adegan yang membahayakan untuk ditonton.

Kalau di KMGP 1 aku baper sama Mas Gagah, di DSC ini aku sukses dibuat baper sama Gita. Ada ya ternyata anak yang tadinya gaulll banget penampilannya, tapi gak menutup diri terhadap kebaikan. Walau mungkin awalnya agak terpaksa kali ya. Hehe..

Di salah satu scene, bahkan Gita gak malu untuk tampil di sebuah acara yang mayoritas pesertanya sudah berjilbab. Dan pertanyaan yang Gita ajukan benar-benar mewakili pertanyaan orang banyak. “Kenapa sih harus pakai jilbab? Kenapa gak jilbabin hati dulu?”

Jawaban untuk pertanyaan Gita pun semakin mencerahkan aku yang suka bingung kalau ditanya pertanyaan sejenis ini. Jawaban yang lugas tetapi tidak menggurui. Mau tau jawabannya seperti apa? Teman-teman bisa menemukan jawabannya di film ini. Tonton yaa :*

Konflik yang terjadi di DSC ini merupakan puncak dari berbagai konflik yang sudah dimulai di film KMGP 1. Semua permasalahan Mas Gagah, Gita, dan Mas Fiisabilillah terjawab dengan tuntas. Alhamdulillaah...

Tak hanya berisi tentang permasalahan seputar Mas Gagah dan orang-orang di sekitarnya, DSC juga mengangkat permasalahan di wilayah kepulauan nun jauh dari Pulau Jawa. Wah, ternyata potensi alam di sana besar banget, lho. Dan pemimpin yang diceritakan di film ini berhasil membawa solusi untuk perbaikan masyarakatnya. Masya Allah..

Sinematografi DSC dikemas dengan baguuuss sekali. Yang paling membekas untukku ya tentang keindahan alam Halmahera. Duh, kujadi ingin ke sana suatu hari nanti.

Buat teman-teman yang belum menonton film KMGP 1 mungkin bakal agak bingung dengan alur ceritanya. Alur cerita DSC kebanyakan bersifat maju-mundur. Mungkin hal ini bisa membuat kalian jadi bingung kalau gak menyimak cerita dengan seksama. Dan yang terpenting, dengan menonton KMGP 1, kalian akan lebih bisa memahami ikatan yang erat antara Mas Gagah dan Gita :”)

Iya, Mas Gagah ini memang yang paling bisa bikin baper. Alhamdulillah aku udah punya si Mas Andromeda, jadi bisa menetralkan nasib seorang anak pertama yang gak punya kakak laki-laki. Haha.. :”)

Aku kasih nilai 90 dari total 100 untuk DSC. Semangat selalu Mba Helvy dan tim! :*

Oiya, boleh aku sedikit berbagi tentang tips menonton DSC untuk anak bayi? :D

Jadi, aku dan suami juga mengajak anak kami yang masih berusia 6 bulan. Bayi memang sebaiknya tidak dibawa menonton ke bioskop karena khawatir bisa merusak syaraf pendengarannya yang masih berkembang. Dan mungkin juga bisa mengganggu penonton yang lain kalau bayinya menangis. 

Jadi, kemarin kami menyiasatinya dengan memasangkan penutup telinga untuk mengurangi suara dentuman audio di studio bioskop. Telinganya pun saya tutup dengan tangan ketika menonton. Tapi alhamdulillaah, audio DSC ini tidak bersifat “menggelegar” sehingga tidak membuat bayi kaget dan juga tidak terlalu mengganggu pendengaran.

Anak kami juga kami pakaikan jaket serta kaus kaki hangat karena studio bioskop ini memang lumayan dingin. Anak kami juga tetap kugendong agar badannya selalu hangat.

Walau pada akhirnya aku tetap menyarankan untuk tidak membawa bayi ke bioskop ya. Kalau ada yang bisa menjaga bayi kita di rumah, mending di rumah aja bayinya 😊

9 Nov 2017

Perpanjang SIM di Depok

Diposting oleh Zana di Kamis, November 09, 2017 0 komentar
Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Gak terasa ternyata sudah lima tahun yang lalu punya SIM. Apalagi sudah setahunan ini gak ngendarain motor sendiri alias diboncengin terus. Hehe..

Kali ini aku mau nge-share alur perpanjangan SIM di Kantor Pelayanan Penerbitan Surat Izin Mengemudi (seingetku nama kantornya ini. Semoga gak salah yaa) Depok yang terletak di Pasar Segar, Jalan Tole Iskandar.

Aku dan suami memutuskan untuk membawa bayi kami saat mengurus perpanjangan SIM karena di rumah gak ada orang. Udah kebayang deh ini gimana ribetnya ngantri-ngantri sambil bawa bayi :")

Alhamdulillah si bayi anteng selama di perjalanan. Sampai di Pasar Segar sekitar jam 10 pagi. Agak deg-degan sih ngeliat banyak banget bapak-bapak yang ngerokok :( Kepala si bayi pun semakin aku rapatkan ke dalam gendongan untuk meminimalisir asap rokok biar gak terhirup. Sambil berdoa semoga antriannya gak panjang dan si bayi gak rewel.

Memasuki depan kantor pelayanan, kami bertanya ke seorang petugas tentang alur perpanjangan SIM. Kami lalu diarahkan menuju ke arah belakang untuk pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Dan bapak-bapak yang lagi nongkrong sambil ngerokok di kantin-kantin belakang semakin banyak :(

Tempat cek kesehatannya terdiri dari dua ruangan. Ruangan depan tempat cek tensi dan bayar biaya administrasi. Di ruangan dalam aku lihat ada seorang dokter jaga. Kayanya di ruangan ini ada tes kesehatan mata, dll deh. Ada gambar yang buat tes rabun mata soalnya di tembok.

Mungkin karena aku bawa bayi, jadinya aku gak diperiksa apa-apa. Dicek tensinya pun gak. Hehe.. Aku langsung diminta menyerahkan fotokopi KTP 1 lembar dan biaya administrasi kesehatan sebesar Rp22.500,-.

Dari ruang kesehatan, kami diarahkan untuk ke loket asuransi di bagian depan kantor pelayanan. Di loket asuransi ini akan diminta uang asuransi sebesar Rp30.000,-. Nanti petugasnya akan menyerahkan kartu asuransi berwarna biru yang harus kita simpan. Aku lupa di sini diminta fotokopi KTP atau SIM atau gak. Tapi seingetku sih gak diminta.

Setelah dapat kartu asuransi, aku berpindah ke loket pengambilan formulir perpanjangan SIM di sebelah loket asuransi. Di loket ini, aku diminta untuk menyerahkan fotokopi KTP dan juga SIM asli. Lagi-lagi aku lupa di sini diminta fotokopi SIM atau gak. Tapi kayaknya sih gak juga :")
Di loket ini juga akan dimintai uang administrasi sebesar Rp70.000,-

Oiya, sebisa mungkin bawa pulpen sendiri yaa. Biar gak ribet pinjem-pinjem pulpen untuk pengisian formulir. Klo gak bawa, di depan kantor pelayanan ada banyak orang yang jualan pulpen juga sih. Yah, siapa tau aja kan mau irit dengan membawa pulpen sendiri.

Formulir perpanjangan SIM bisa diisi di dalam kantor pelayanan. Disediakan meja dan contoh pengisiannya juga di sana. Setelah formulir selesai diisi, kami langsung menyerahkannya ke loket pendaftaran yang ada di dalam.

Tinggal nunggu panggilan untuk foto deh. Dan antriannya.. Masya Allah panjangnyaaa XD

Alhamdulillah namaku langsung dipanggil untuk foto terlebih dahulu. Mungkin ini salah satu layanan ekstra untuk ibu yang membawa bayi kali ya. Terima kasih banyak lho Bapak dan Ibu Polisi yang baik hati.

Tanpa menunggu lama, aku pun difoto oleh petugas. Tentunya sambil menggendong bayi karena Mas Suami menunggu di luar ruangan (ruangan fotonya sempit dan banyak orang yang mengantri soalnya. Jadi gak enak klo menuh-menuhin). Yup, sesi pemotretan pun selesai. Dan di fotonya pun keliatan tali gendongan bayi. Perjuangan ya, Nak XD

Gak lama namaku pun dipanggil untuk ambil kartu SIM yang baru. Masya Allah.. Secepat ini ya ternyata. Dan si bayi pun gak rewel jadinya :")

Udah, segitu aja ceritanya. Aku sangat mengapresiasi layanan kepolisian yang mendahulukan ibu yang membawa bayi. Soalnya beneran gak tega juga sih klo harus antri lama, banyak asap rokok juga di luar kantornya.

Jadi, kurang lebih yang harus dipersiapkan:
1. Kartu SIM asli + fotokopinya 3 lembar (buat jaga-jaga klo diminta)
2. KTP asli (buat jaga-jaga) + fotokopinya 3-5 lembar
3. Pulpen
4. Uang sebesar Rp122.500,- (bawa uang 150 aja buat jaga-jaga, sekalian buat bayar parkir)

Okay, semoga bermanfaat.

1 Mei 2017

Daftar BPJS untuk Bayi di Dalam Kandungan

Diposting oleh Zana di Senin, Mei 01, 2017 0 komentar
Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Buat ibu-ibu yang sedang hamil 7 atau 8 bulan, bisa nih mulai mendaftarkan calon bayinya ke BPJS. Biar nanti ketika lahiran, si bayi juga bisa mendapatkan pelayanan BPJS. Klo yang punya kartu BPJS cuma ibunya aja, nanti ketika lahiran, si bayi ini bakal ada tagihan layanan sendiri (red: gak gratis).

Berikut ini persyaratan yang harus dilengkapi ketika mendaftar:

1. Formulir penambahan anggota keluarga (untuk anak yang ortunya sudah punya kartu BPJS. Klo ortunya belum punya, sepertinya harus didaftarkan juga ibu dan bapaknya untuk ikut kepesertaan BPJS)

2. Fotokopi KTP orangtua + KTP asli (fotokopi yang diminta cuma 1 lembar, tapi buat jaga-jaga, siapin aja 2 atau 3 lembar lagi)

3. Fotokopi kartu BPJS orangtua + kartu BPJS asli (fotokopi yang diminta cuma 1 lembar, tapi buat jaga-jaga, siapin aja 2 atau 3 lembar lagi)

4. Fotokopi Kartu Keluarga (KK) + KK asli  (fotokopi yang diminta cuma 1 lembar, tapi buat jaga-jaga, siapin aja 2 atau 3 lembar lagi)

5. Fotokopi buku tabungan dari Bank Mandiri/BNI/BRI (bank mitra BPJS) dan buku tabungan asli (jika melakukan pendaftaran untuk kelas I) (fotokopi yang diminta cuma 1 lembar, tapi buat jaga-jaga, siapin aja 2 atau 3 lembar lagi)

6. Foto hasil USG + Surat Keterangan bahwa calon janin yang berada di dalam kandungan dalam keadaan sehat.
Pas kemarin aku daftar, kata petugasnya, foto hasil USG gak perlu, yang penting surat keterangan dari dokter/bidannya aja. Tapi buat jaga-jaga, dibawa aja lah ya hasil USG-nya. Daripada bolak-balik. Hehe..

Yang perlu ada di surat keterangan calon bayi tersebut:
- Nomor Surat
- Pernyataan usia janin di dalam kandungan dan menyatakan bahwa janin sehat
- Hari Perkiraan Lahir (HPL)

Kayaknya sih yang penting 3 keterangan tadi. Yang lainnya biasanya dokter/bidannya udah paham.

Contoh surat keterangan yang kufoto di kantor BPJS Depok. Yang dilingkari cuma 3 poin.
Kalau semua persyaratan ini sudah ada, kamu bisa langsung datang ke kantor BPJS untuk mendaftar :D

Oiya, formulirnya bisa diambil dulu di kantor BPJS sebelum kamu mendaftar. Klo bingung gimana cara ngisinya, bisa langsung ditanya ke satpam atau petugas lain yang berwenang.

Cara pengisian formulir:
1. NIK diisi dengan NIK Ayah kandung
2. Nama diisi dengan "Bayi Nyonya Nama_Ibu_Kandung"
3. Tanggal lahir diisi dengan tanggal saat melakukan pendaftaran BPJS
4. Jenis kelamin diisi dengan jenis kelamin bayi sesuai hasil USG
5. Kelas BPJS harus sama dengan kelas BPJS ibu kandung bayi

Formulir beserta seluruh fotokopi persyaratan di klip jadi satu saat pendaftaran. Bawa pulpen sama klip sendiri ya biar gak ribet pinjem-pinjem ke orang lain :D

Pendaftaran untuk bayi di dalam kandungan hanya bisa dilakukan jika orangtua bayi adalah peserta BPJS mandiri, bukan dibayarkan oleh perusahaan. Klo BPJS orangtuanya dibayarkan oleh perusahaan, BPJS bayi baru bisa dibuat ketika bayi lahir. Untuk prosedur ini, aku belum tahu karena setelah daftar, baru dikasih sms pemberitahuan bahwa BPJS-ku sudah didaftarkan oleh perusahaan (udah bukan mandiri lagi) :")

Yang terhormat bapak/ibu ***** & Keluarga, untuk pendaftaran peserta BPJS KESEHATAN a/n CALON BY NY ***** tidak bisa kita proses dikarenakan untuk bapak dan ibu sekeluarga sudah tedaftar aktif di peserta pegawai swasta PT ***** sejak 01/05/2017 dengan nomor kartu ******, maka untuk pendaftaran anak ke 1 dapat dilakukan setelah bayi nya lahir dan akan aktif apabila orangtuanya aktif, untuk pendaftaranya dapat di bantu di kantor BPJS KESEHATAN setempat di RUKO SALADIN LANTAI 2 loket badan usaha dengan membawa surat keterangan lahir, fc kk, fc ktp, kartu BPJS. 

*UPDATED

Nah, karena kemarin ternyata aku sama suami sudah terdaftar di BPJS perusahaan, akhirnya setelah bayi lahir, suamiku harus ngurus dokumen lagi ke kantor BPJS buat bikin BPJS bayi dengan persyaratan seperti sms sebelumnya :"

Persyaratan yang dibawa ke kantor BPJS:
1. Surat Keterangan Lahir dari faskes tempat bayi lahir
2. Fotocopy Kartu Keluarga
3. Fotocopy KTP ibu dan ayah bayi
4. Fotocopy kartu BPJS ibu dan ayah bayi

Klo di Depok, nanti daftarntya di Ruko Saladin Square Lantai 2. Nanti di sana akan dikasih formulir yang harus diisi oleh orangtua bayi.

BPJS bayi harus sudah jadi sebelum orangtua harus membayar uang administrasi persalinan ya. Makanya harus buru-buru, sebelum kantornya tutup. Apalagi klo ibunya lahir lewat proses normal, kan disuruh pulang dari RS-nya cepet banget tuh. Hehe...

Kartu BPJS bayi langsung aktif dan jadinya cepat, saat itu juga, gak perlu nunggu 2 minggu. Jadi bisa dibawa untuk melakukan proses administrasi bayi di RS :D

18 Apr 2017

Ta'aruf Series #1; Proposal Ta'aruf

Diposting oleh Zana di Selasa, April 18, 2017 2 komentar

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Belakangan ini aku kepikiran buat bikin Ta'aruf Series yang nyeritain pengalaman ta'aruf-ku. Yah, siapa tau aja bermanfaat buat yang butuh sekalian buat bahan nostalgia diri sendiri. Hehe..

Berhubung ta'aruf-ku diawali dengan pertukaran riwayat hidup aka CV. Hal pertama yang bakal diceritain adalah poin-poin yang kemarin aku tulis di CV.

Data Pribadi

- Nama Lengkap
Tulis nama lengkap ya sesuai KTP dan KK. Hihi..

- Nama Panggilan
Nama panggilan sehari-hari. Biar nanti klo prosesnya lanjut, doi bisa tahu nama panggilan kita.

- Foto
Boleh kok pilih foto yang terbaik dan tercantik. Tapi jangan yang berlebihan yaa.. Salah-salah nanti doi kaget klo foto berbeda dengan kenyataan :D

- Agama

- TTL

- Jenis Kelamin

- Tinggi Badan / Berat Badan
Bukan apa-apa. Ini bisa jadi pertimbangan juga lho buat ikhwannya. Bagaimanapun ikhwan itu kan kebanyakan bertipe visual.

- Pekerjaan

- Jabatan Pekerjaan

- Penghasilan per bulan
Saranku, terus terang aja soal penghasilan. Jangan dikurang-kurangi, atau dilebih-lebihkan.

- Suku
Bukannya rasis, tapi mungkin ada pertimbangan tertentu yang membuat si ikhwan ini cenderung ke salah satu suku. Kemauan dari keluarga misalnya. Atau bisa juga untuk mempermudah adaptasi saat nanti menikah.

- Alamat Asal
Kalau kamu anak kos/kontrakan, berarti tulis alamat rumah asalmu di kampung halaman.

- Alamat Sekarang
Kalau kamu nge-kos/ngontrak, berarti tulis alamat rumah kosan/kontrakan.

- E-mail

- Facebok/Twitter
Siapa tahu kan si ikhwannya pengen kepo. Pengen ngeliat seberapa eksisnya sih kamu di sosmed. Tapi hal ini gak berlaku buatku dulu. Soalnya si Mas Suami juga gak punya sosmed. Jadi dia gak kepo. Haha..

- Blog
Siapa tahu juga si ikhwan ini pengen tau cuap-cuapanmu dalam bentuk yang lebih panjang ketimbang status di sosmed. Dari sosmed ini juga mungkin bisa terlihat karakter kita secara umum.

Riwayat Pendidikan
Jelaskan tahun pendidikan dan institusi pendidikanmu dari awal sampai akhir.

Pendidikan Non Formal
Misalnya kamu pernah ikut kursus bahasa Inggris, les menjahit, latihan bela diri, dll. Nah, bisa nih ditulis di sini.

Prestasi

Pengalaman Organisasi

Pengalaman Kerja
Tulis secara rinci tahun, institusi, dan jabatan dari pekerjaan yang pernah ditekuni.

Penjelasan Diri Lebih Lengkap
- Motto Hidup

- Hobby

- Makanan Favorit

- Minuman Favorit

- Hal-hal yang disukai
Dulu sih aku nulisnya "Diberi kejutan" walau ternyata si Mas Suami bukan tipe yang suka ngasih surprise. Namanya juga usaha. Hahaha...

- Hal-hal yang tidak disukai
"Kucing" misalnya :"

- 5 Karakter Positif
Kalau bingung gimana ngisinya, atau malu nulis kebaikan diri sendiri, tanya aja sama orangtua atau sahabat terdekat. Biasanya mereka lebih paham kepribadian kita.

- 5 Karakter Negatif
Ini biasanya lebih lancar nulisnya nih. Hahaha.. Tapi klo bingung, boleh ditanya juga ke orang terdekat.

- Riwayat Penyakit dan Cacat Fisik
Ini penting lho untuk diketahui sama calon suami. Klo nanti dia taunya pas udah nikah, khawatirnya dia kaget dan bisa jadi hati-nya berbelok. Jadi, saranku lebih baik dikasih tau dari sebelum nikah. Klo ternyata dia gak mau nerima, ya berarti dia bukan jodoh yang terbaik buat kita.

- Afiliasi
Ini sifatnya opsional sih. Misalnya kamu punya afiliasi ke lembaga atau organisasi tertentu, boleh ditulis di sini.

- Riwayat Tarbiyah
Klo kita udah ngaji, boleh nih ditulis lamanya kamu ngaji di sini.

- Amanah Membina
Ini bisa jadi rujukan si ikhwan buat tau aktivitas dan mungkin juga karakter kita. Biar nantinya dia gak kaget klo misalnya kita memang mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk membina setiap pekannya.

Keluarga
- Nama Bapak
- Pekerjaan
- Pendidikan
- Usia
- Sifat

- Nama Ibu
- Pekerjaan
- Pendidikan
- Usia
- Sifat

- Nama Kakak/Adik
- Pekerjaan
- Pendidikan
- Usia
- Sifat

Visi Misi Pernikahan
- Tujuan
- Visi
- Misi

Kriteria Calon Pasangan
- Kriteria dari diri sendiri
Kamu bisa tulis kriteria calon pasangan yang kamu inginkan. Klo kata Nabi kan biasanya ada 4 faktor yang menentukan kriteria nih. Paras, harta, keluarga, dan agama. Nah, di antara keempat faktor ini, faktor agama lah yang paling baik :)
Kamu bisa menulis kriteria fisik, karakter, ataupun hal lainnya. Tapi ya kayaknya gak perlu sedetail sampe nulis syarat IPK juga sih. Ini beneran ada ikhwan yang suka nulis syarat ini lho kata guru ngajiku :"

- Kriteria dari orangtua
Sesempurna-sempurnanya kriteria yang kamu punya, tapi klo gak sesuai sama kriteria orangtua kan bisa berabe juga ya. Ada baiknya kamu nanya dulu sama orangtua. Beliau mau punya calon menantu dengan kriteria seperti apa. Insya Allah ini bakal mempermudah prosesmu selanjutnya.

Rencana Pasca Pernikahan
- Rumah Tangga
Kamu deskripsiin deh kamu nanti mau punya rumah tangga yang seperti apa. Rumah tangga yang mengedepankan kejujuran kah. Rumah tangga yang saling membangun potensi satu sama lain kah. Pokoknya kamu tulis aja dengan jelas di bagian ini.

- Keturunan
Kamu bisa menyebutkan nanti setelah berumah tangga mau punya anak berapa, jika Allah mengizinkan

- Keuangan
Di bagian ini kamu bisa jelasin juga metode pengaturan keuangan rumah tangga yang kamu inginkan ke depannya.

- Pekerjaan
Untuk perempuan, kamu bisa menuliskan juga keinginan kamu tentang pekerjaan kamu setelah menikah nanti. Apakah tetap mau bekerja sambil mengurus rumah tangga, mau menjadi ibu rumah tangga, mau buka usaha di rumah, dll.

- Pendidikan
Kamu punya rencana untuk melanjutkan studi setelah menikah? Silakan tulis di sini. Hehe.. Atau bisa juga kamu jabarkan rencana pendidikan untuk anak-anakmu kelak. Mau dididik seperti apakah mereka, metodenya seperti apa, dll.

- Tempat Tinggal
Kamu berencana untuk hidup mandiri dengan hidup secara pisah rumah dengan orangtua/mertua? Atau kamu berencana untuk menemani orangtua/mertuamu dengan tinggal bersama mereka? Atau kamu maunya punya rumah yang jaraknya dekat dengan rumah orangtua? Silakan ditulis di sini.

- Dakwah Keluarga dan Masyarakat
Pastinya kamu mau dong klo pernikahanmu bisa bermanfaat dan saling mengembangkan potensi diri satu sama lain? Nah, bisa juga nih kamu tulis rencana-rencana kebaikanmu pasca menikah di lingkungan keluarga dan masyarakat :)

Banyak banget ya poin-poinnya? Namanya juga "Proposal", beda sama "Riwayat Hidup". Haha..

Poin-poin ini bisa jadi bahan diskusi kalian bersama dengan calon pasangan di tahap ta'aruf yang selanjutnya. Insya Allah nanti berlanjut di Ta'aruf Series selanjutnya.

Semoga bermanfaat.. Semoga bisa menjadi inspirasi dalam merancang proposal kalian.  Aamiin..

3 Jan 2017

Cara Install Laravel

Diposting oleh Zana di Selasa, Januari 03, 2017 0 komentar
Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Biar gak lupa, dicatat aja seperti biasa. Parah banget kelamaan gak ngutak-ngatik Laravel, sampe cara install-nya pun lupa :")

Yang harus diperhatikan adalah:
Cek PHP version-nya yaa.. Pastikan compatible dengan versi Laravel yang mau di-install.

1. Install Composer
Bisa di-download di https://getcomposer.org/download/. Pilih aja yang Windows Installer.
Klo udah ke-download, langsung di-install aja Composer-Setup.exe.

2. Buka command prompt
Setelah Composer berhasil di-install. Buka command prompt. Masuk ke direktori dimana kita mau install Laravel.



3. Install Laravel di direktori yang diinginkan
Gunakan command berikut di command prompt:
composer create-project laravel/laravel blog --prefer-dist



"blog" bisa diganti dengan nama folder Laravel yang diinginkan.
Tunggu hingga proses install selesai.

4. Jika install Laravel berjalan dengan baik, maka akan muncul logo Laravel jika kita membuka url http://localhost/blog/public/

5. Siapkan database, db_user, beserta passwordnya. Edit DB_DATABASE, DB_USERNAME, dan DB_PASSWORD pada file .env yang ada pada root folder blog dengan database yang sudah dibuat.

6. Untuk membuat halaman registrasi, login, dan logout sederhana, Laravel sudah menyiapkan fungsinya.
Gunakan command berikut di command prompt pada direktori folder blog :
php artisan make:auth


Setelah itu, gunakan command berikut di command prompt pada direktori folder blog :
php artisan migrate

Voila! Halaman Login dan Registrasi sudah jadi! :D


Sumber referensi:
https://laravel.com/docs/
https://www.tutorialspoint.com/laravel/laravel_application_structure.htm.

 

searching for Andromeda Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review