4 Sep 2008

Dia adalah Dita

Diposting oleh Zana di Kamis, September 04, 2008
Sebenarnya aku kenal dengannya sejak SD, walau kami bukan dari SD yang sama. Kami sering bertemu dalam perlombaan. Perlombaan pertama yang mempertemukan kami adalah Lomba Murid Teladan. Kami satu ruangan. Namun, tak pernah sekalipun kami bertegur sapa padahal banyak anak-anak yang mengajaknya berkenalan. Entah mengapa aku begitu takut untuk menyapanya. Dalam pikiranku saat itu tertanam bahwa Dita adalah anak yang sombong dan belagu (sorry, ya.. :p ).

Begitulah yang selalu terjadi jika kami kembali bertemu di perlombaan lain selama kurang lebih 2 tahun berturut-turut. Tak pernah bertegur sapa.

Selulusnya dari SD, aku melanjutkan sekolah di sebuah SMP di daerah Lenteng Agung. Sekolahnya cukup bagus. Entah ada bisikan dari mana, tiba-tiba aku menanyakan pada Ibu, “ Bu, di 98 ada yang pake jilbab, nggak?” Ibuku mengangguk. Kulanjutkan, “Ada anak yang pake kerudung putih yang kayak dobelan itu nggak?” Ibuku kembali mengangguk. Dan, dalam pikiranku tercetuslah, “Masak harus satu sekolah sama Dita, sih????” Padahal aku sama sekali nggak tahu Dita akan sekolah di SMP mana.

Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan kenyataan. Di SMP itu aku ternyata SATU KELAS dengannya di kelas 1-4!! Oh… Mimpi apa aku saat itu. Selama MOS aku juga belum berani mengajaknya berkenalan. Dia terlihat pendiam. Boro-boro ngajak kenalan, ngedeketin aja belum tentu berani…

Hingga suatu hari Dita lah yang menyapaku duluan, “Nilai Matematikanya berapa?”. Pertanyaannya yang pertama. Bisa dibilang juga sapaannya yang pertama. Sapaannya yang tidak akan pernah terlupa. Karena, persahabatan kami diawali dengan kalimat sederhana itu.

Aku mulai belajar untuk memahaminya. Dita yang pemarah (^^!), cukup galak, tetapi memiliki kepribadian yang menarik yang selalu membuat orang lain ingin dekat dengannya. Dita yang begitu polosnya menanggapi anak-anak cowok yang jelas-jelas lagi pedekate sama dia. Yang paling kuingat adalah Rio. Kegigihannya dalam mencari segala jenis informasi tentang Dita membuatku cukup salut dengannya. Walau sampai saat ini mungkin cintanya itu masih bertepuk sebelah tangan (^^).

Aku sering curhat dengannya. Tentang C21, CK, Pluto, Lutfi, Afrizal, Nomor 1, Nomor 2, dan banyak lagi (nggak bisa keitung saking banyaknya!). Yang paling heboh dan sempat membuatku agak bermasalah dengan Dita adalah CK. Aku sempat salah paham sama Dita dan CK untuk masalah yang sebenarnya nggak penting. Yah, namanya juga lagi puber.. ^^ Begitulah… Mungkin sampai saat ini pun masalah itu masih mengganjal di hati Dita (bener, nggak?)

Masalah itu cukup dibahas sampai situ. Sekarang kita beralih ke kehidupan SMA. Aku seharusnya banyak berterima kasih pada Dita karena dialah yang memperkenalkanku dengan SMAN 28 Jakarta. Sekolah yang membawa perubahan kepada kami berdua.
Di sekolah itu kami berdua mulai dipercaya untuk mengemban berbagai amanah. Terutama di organisasi. Aku dan Dita sama-sama ikut KIR dan saat masa kepengurusan itulah mulai terjadi cekcok kecil-kecilan. Aku melihat Dita adalah sosok yang perfeksionis. Segala sesuatu harus sesuai dengan yang dia mau. Segala sesuatunya harus terencana. Walaupun posisiku sebagai ketua dan dia wakilnya, kadang aku suka ngerasa diintervensi juga sama dia (^^). Aku akui aku memang harus diintervensi biar aku mau bergerak. Maklum, rasa malas dalam diri masih sangat menguasai. Karena Dita juga sibuk di MPK, dia jadi nggak terlalu sering menghadiri rapat KIR.

Mungkin karena rasa malasku sudah kelewatan dan mungkin waktu itu aku lagi berada di titik jenuh sebagai ketua. Aku mulai masa bodoh dengan kegiatan KIR. Aku terlalu cuek padahal sebentar lagi mau ada regenerasi. Hingga suatu saat Dita menyadarkanku dengan kata-kata ‘mautnya’, “ Ka, maaf, ya. Terserah Eka mau benci apa nggak sama Ta. Tapi, Ta sangat benci dengan Eka yang sekarang.” Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….. Rasanya mau nangis dibilang kaya gitu. Aku berusaha sekuat tenaga mencairkan suasana tapi nggak mempan. Di angkot juga kami nggak banyak bicara. Bisa dibilang ini adalah pertengkaranku yang paling besar dengannya.

Alhamdulillah hubungan kami akhirnya bisa membaik lagi..

Begitulah Dita.. Walau dia galak dan omongannya kadang nyelekit (^^) tapi dia adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Dengan caranya sendiri, dia bisa menyadarkan aku kalau aku salah dan membantu memperbaiki kesalahanku itu. Dia bisa memahami segala kekurangan dan kelebihan yang aku miliki. Dia menguatkanku saat lagi down. Dia lah tempat curhatku yang paling baik. Rasanya ada yang mengganjal kalau aku belum cerita tentang pengalamanku ke dia.

Sabar, ya, dia sangat sabar mendengarkan segala ceritaku yang padahal temanya selalu sama (walau tokohnya beda-beda :p ). Dita yang selalu bisa diandalkan dalam kepanitian. Terutama jadi tatib :p. Terima kasih Allah, karena Engkau telah mempertemukan kami…

0 komentar:

 

searching for Andromeda Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review